Tuesday, September 29, 2015

Pengertian Tasawuf Akhlaki


BAB II
Tasawuf Akhlaki
Dalam kaitan ini pula,menurut Amin Syukur,ada dua aliran dalam tasawuf.Pertama,aliran tasawuf sunni,yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Quran dan Al-hadist secara ketat,serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkatan rohaniah) mereka kedua sumber tersebut.[1] Kedua,aliran tasawuf falsafi,yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi,dalam pemakaian terma-terma filsafat yang maknanya di sesuaikan dengan tasawuf.Oleh karena it, tasawuf yang berbau filsafat ini tidak sepenihnya dapat di katakana tasawuf,dan juga tidak sepenuhnya dapat di katakan sebagai filsafat.[2]
A.    AJARAN TASAWUF AKHLAKI
Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di ‘’hadirat’’tuhan.keberadaan di ‘’hadiarat’’tuahan itu di rasakan sebagai kenikmatan dan kebahagian yang hakiki.[3]Bagi kaum sufi,pengalaman Nabi dalam isra``Mi`raj,misalnya, merupakan sebuah contoh puncak pengalaman rohani.Ia pengalaman rohani tertinggi yang hanya di punyanyi oleh seorang Nabi.Kaum sufi berusaha meniru dan mengulangi pengalaman rohani Nabi iti dalam dimensi, skala, dan format sepadan dengan kemampuannya.’’Pertemuan’’dengan tuhan merupakan puncak kebahagiaan yang di lukiskan dalam sebuah hadist sebagai’’sesuatu yang tak pernah di lihat oleh mata’’.[4]
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan seseorang ke hadhirat Allah hanyalah dengan kesuciaan jiwa.Karena jiwa manusia merupakan refleksi atau pancaran dari pada zat Dalam tasawuf Akhlaqi,system pembinaan akhlak di susun sebagai berikut.
1.Takhalli
       Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di jalani oleh seorang sufi.Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari prilaku atau akhlak tercela.Salah satu akhlak tercela yang paling banyak membawa pengaruh terhadap timbulnya  akhlak jelek lainnya adalah ketergantunga pada kelezatan duniawi.Hal ini ini dapat di capai denga jalan menjauhakan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu.
Dalam menanamkan rasa beni terhadap kehidupan duniawi  serta mematiaknan hawa nafsu, para sufi berbeda pendapat. Sekolompok sufi yang moderat berpendapat bahwa rasa kebencian terhadap kehidupan duniawi  cukup sekedar tidak melupakan tujuan hidupnya dan tidak meninggalkan duniawi sama sekali.Demikian pula ,dengan pematian hawa nafsu itu, cukup dengan sekedar’’di kuasai’’ melalui pengaturan disiplin kehidupan .
Sementara itu,kelompok sufi yang ekstrem berkeyakinan bahwa kehidupan duniawi benar-benar sebagai ‘’’racun pembunuh’’ kelangsugan cita-cita sufi. Persoalan duniawi adalah penghalang perjalanan, karena nya nafsu yang bertebdensi duniawi harus dimatikan agar manusia bebas berjalan menuju yujuan, yaitu memperoleh kebahagiaan spiritual yang hakiki. Bagi mereka, cara memperoleh keridhaan Tuhan tidak sama dengan cara memperoleh kenikmatan material. Pengingkaran ego dengan cara meresapkan didi pada kemauan Tuhan adalah perbuatan utama.[5]



2. Tahalli
       Tahalli adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaun sufi setelah jiwa dikosongkan dari akhlak-akhlak jelek. Pada tahap tahalli, kaum sufi berusaha agar setiap gerak perilaku selalu berjalan diatas ketentuan agama, baik kewajiban yang bersifat luar maupun yang bersifat dalam. Aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal, seperti shalat, puasa, dan haji, sedangkan aspek dalam seperti iman, ketaatan, dan kecintaan kepada Tuhan.
       Dengan demikian, tahap tahalli merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan. Sebab, apabila salah satu kebiasaan telah dilepaskan tapi tidak segera ada pengganti nya, kekosongan itu dapat menimbulkan frustasai. Oleh karena itu, ketika kebiasaan lama ditinngalkan, harus segera di isi dengan satu kebiasaan baru yang baik. Jiwa manusia, seperti kata Al-Ghazali, dapat diubah,dilatih, dikuasai, dan dibentuk dengan kehendak manusia itu sendiri .
       Sikap mental dan perbuatan bail yang sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia padipurna, antara lain sebagai berikut:
A.    Taubat
       Menurut Qamar Kailani dalam bukunya Fi At-Tasawuf Islam, taubat adalah rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dalam hati dengan disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa. Sementara itu, Al- Ghazali mengklasifikasikan taubat kepada tiga tingkatan:
·         Meninngalkan kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih kepada kebaikan karena takut kepada siksa Allah.
·         Beralih dari satu situasi yang sudah baik menuju ke situasi yang lebih baik lagi. Dalam tasawuf, keadaan ini sering disebut inabah.
·         Rasa penyesalan yang dilakukan semata mata karena ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Hal ini disebut Aubah.
B.     Cemas dan Harap (khauf dan Raja’)
     Sikap mental rasa cemas (khauf) dan harap (raja’), merupaka salah satu ajaran tasawuf yang selalu dikaitkan kepada Hasan Al Basri. Karena, secara historis memang dialah yang pertama kali memunculkan ajaran ini sebagai cirri kehidupan sufi. Menurut Al Basri, yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepad Allah. Karena sering menyadari kekurang sempurnaan nya dalam mengabdi kepada Allah, timbillah rasa takut, khawatir kalau Allah akan murka kepada nya.[6]
C.    Zuhud
            Secara umum, zuhud dapat di artikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari sikap rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat.
D.    Al-Faqru
Istilah Al-faqru bermakna dapat menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah di miliki sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.[7]
E.        As-Sabru
Salah satu sikap mental yang fundamental bagi seorang sufi adalah sabar. Sabar di artikan sebagi suatukeadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian.
F.        Ridha
Istilah ridha mengandung pengertian menerima dengn lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah, aik dalm menerima serta melaksanakan ketentuan-katentuan agam maupun yang berkenaan dengn nasib dirinya.
G.      Muraqabah
Muraqabah memiliki arti intropeksi atau selfcorrection. Dengan kalimat yang lebih popular dapat di katakan bahwa muraqabah adalah setiap saat siap dan siaga meneliti diri sendiri.



3. Tajalli
            Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah di lalui pada fase tahalli, rangkaian pendidikan akhlak disempurnakan pada fase tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nurghaib[8]. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan terbias melakukan perbuatan luhur tidak berkurang, rasa ketuhanan perlu di hayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dngan sendirinya akan menumbuhkan akan rasa rindu kepadanya.
            Para sufi sependapat bahwa tingkat kesempurnaan kesucuan jiwa hanya dapat di tempuh dengan satu jalan, yaitu cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu. Dengan kesucian jiwa jalan unuk mencapai Tuhan akan terbuka tanpa jalan ini, tidak ada kemungkinan terlaksananya tujuan dan perbuatan yang dilakukan pun tiak dianngap sebagai perbuatan yang baik.[9]

B.       Ciri-ciri Tasawuf Akhlaki
1.      Melandaskan diri pada Al-Quran dan Assunnah.
2.      Tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat sebagai mana terdapat pada ungkapan-ungkapan syatahat.
3.      Lebih bersifat mengajarkan dualism dalam hubungan antara tuhan dan manusia.
4.      Kesinambungan antara hakikat dan syariat.
5.      Lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadah dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.






C.      Tokoh-tokoh Tasawuf Akhlaki
Berikut ni adalah contoh para sufi beserta ajarannya yang termasuk dalam tasawuf akhlaqi.
1.      Hasan Al-Bashri
Nama lengkapnya hasan al-bashri adalah Abu sa'id al hasan bin yasar. Ia adalah seorang yang masyhur dikalangan tabi'in, ia lahir di madinah pada tahun 21 H/632 M dan wafat pada tahun 110 H/ 728 M. Abu Naim Al-Ashbahani menyimpulkan pandangan tasawuf hasan al bashri sebagai berikut, " takut (khouf) dan pengharapan (raja') tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan,tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah.[10] "Pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedihhati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sa'roni berkata, "demikian takutnya sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuknya (hasan al-basri).
2.      Al-Muhasibi
Al-haris bin Asad Al Muhasibi, beliau lahir pada tahun 165 H di Bashroh, wafat pada tahun 243 H/857 M. Beliau menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya tatkala ia mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat Islam, ada sekelompok orang yang tahu tentang keakhiratan. Sbagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karana kesombongan yang motivasi tentang keduniaan. Pandangan al muhasibi tentang ma'rifat sangatlah berhati-hati terutama dalam menjelaskan batasan agama dan tidak mendalami batin agama yanf dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan.
Dalam ajaran Al-Muhasibi, khauf dan roja' menempati posisi penting dalam perjalanan seorang membersihkan jiwa, beliau jaga mengatakan bahwa khauf dan roja' dapat dilakukan sempurna bila berpegang teguh pada Al-quran dan As-sunnah, dan al muhasibi mengatakan bahwa ma'rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah .
3.      Al-Qusyairi
Nama lengkap Al-qusyairi adalah 'abdul karim bin hawazin lahir tahun 376 di istiwa,kawasan Nisyafu yang merupakan salih satu pusat ilmu pengetahuan pada massanya. Beliu juga orang yang mampu mengompromikan syari'at dengan hakikat, beliu wafat tahun 465 H. Seandainya karya Al-quroisyi dikaji secara mendalam akan tampak jelas bagaimana Al-quroisyi cenderung mengembalikan tasawuf ke landasan doktrin-doktrin ahlus Sunnah yaitu dengan mengikuti para sufi sunni abad ketiga dan keempat hijriyah.Ma'rifat menurut Al-quroisyi adalah seorang yang sudah mengenal Allah dan pengamalannya itu sudah pada keyakinan yang kuat .
4.      Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta'us Ath-Thusi Asy-Syafi'i Al-Ghozali.beliau dilahirkan di khurrosan,Iran pada tahun 450 H/1058 M, dan menghebuskan nafasnya pada tanggal 19 Desember 1111 Masehi.Didalam tasawufnya, Al-Ghozali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Menurut Al-Ghozali, jalan menuju tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu terlepas dari segala sesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah .[11]











[1]. Amin Syukur,Rasionalisme dalam tasawuf,IAIN WALI SONGO,SEMARANG,1994,hlm.22
[2] .Ibid,hlm,26-27.
[3] .Usman said,et.al,pengantar ilmu tasawuf,medan,proyek pembinaan perguruan tonggi institute    agama islam Negeri sumatera Utara,1981,hlm,96
[4] .Nurcholish Majdjid,pengalaman mistik kaum sufi,dalam Tabloid tekad,Nomor18/tahun11, 6-12 Maret 2000,hlm,11

                                                                                                                                                                                                                                                                       
[5]. Said, Pengantar....., hlm. 101.
[6] . R.A. Nicholson, Seperti di Kutip Said, Pengantar....., hlm.
[7] Alkalabazi, Taàruf fi mazhab at`tasawufi, isa albab al halabi, msir,1960, hlm. 105
[8] Kamar Kailani, fi attasawuf fi al-islam, dar al-maàrif, Kairo, 1969, hlm. 27.
[9] M.M. Syarif, History of Muslim philosophy, Vol. II, Otto Harrazpwitz, Wiesbaden, 1963, hlm. 199.
[10] Hamka, Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986, hlm. 76.
[11] Al Subqi, Thabaqat As Syafi’iyat Al kubra, Al Mustafa Babi Al Halabi, Juz 4, Mesir, hlm. 102.