Pengertian Manusia, harapan, cita-cita, maut dan doa-doa - Ilmu Budaya Dasar ~ Knowledge Is Free

Pengertian Manusia, harapan, cita-cita, maut dan doa-doa - Ilmu Budaya Dasar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWT yang pada mulanya Allah menciptakan manusia dari tanah liat. Akan tetapi, Allah memberikan manusia kelebihan-kelebihan dibandingkan ciptaan-Nya yang lain. Allah menganugerahkan manusia dengan akal dan nafsu sehingga pada awal penciptaan Adam, Allah menyuruh malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam. Akan tetapi, jin tidak mau bersujud kepada Adam karena keangkuhannya dia merasa lebih hebat karena dia tercipta dari api sedangkan adam, tercipta dari tanah liat.
Akan tetapi, manusia selaku ciptaan Allah memiliki naluri yang lemah dan memiliki harapan harapan dalam hidupnya. Allah memerintahkan umat manusia untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar harapan yang diharap oleh manusia terkabulkan. Allah adalah penguasa sekalian alam, oleh karena itu sudah sepatutnya kita bergantung dan berserah diri kepada Allah SWT. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa, menghidarkan kita dari sifat takabur karena kita dapat menyadari itu semua dating-nya dari Allah SWT.
Berbicara tentang manusia, manusia adalah makhluk yang bernyawa. Sesuai dengan kodratnya, setiap makhluk yang bernyawa tidak akan terlepas dengan maut. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menjelaskan pengertian dari manusia, doa dan harapan, kematian atau maut dan keterkaitan antara ketiganya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian manusia?
2.      Apa doa dan harapan?
3.      Apa pengertian kematian atau maut?
4.      Apa keterkaitan diantara manusia, doa, harapan, dan kematian atau maut ?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah,
1.      Menjelaskan kepada pembaca pengertian manusia
2.      Menjelaskan kepada pembaca pengertian doa dan harapan.
3.      Menjelaskan kepada pembaca pengertian kematian ata maut.
4.      Menjelaskan kepada pembaca keterkaitan manusia dengan doa dan hara-pan dan keterkaitan manusia dengan kematian atau maut.
5.      Mengajak pembaca untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT dan senantiasa mengingat akan kematian atau maut adalah perihal yang benar adanya dan kita semua pasti mengalaminya.





                                                                                              






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manusia
Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam. Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah SWT. Dimana dalam melakukan sesuatu, manusia memiliki keterbatasan dan ketidaksanggupan. Manusia juga ciptaan Allah yang lemah. Oleh karena itu, manusia tidak terlepaskan dari harapan-harapan dan doa agar harapan tersebut terkabulkan. Dan begitu pula dengan kematian, manusia selaku ciptaan Allah SWT yang bernyawa, maka kita tdak terlepas dari kematian dan kita tidak mengetahui kapan kematian itu akan menghampiri kita. Oleh sebab itu, kita harus bersiap siab untuk mengantisipasi datangnya maut dengan memperbanyak berbuat kebajikan dimuka bumi ini.
B.     Pengertian Harapan
Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu itu terjadi. Didalam menantikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia melibatkan manusia lain atau kekuatan lain diluar dirinya sesuatu terjadi, selain hasil usahanya yang telah dilakuka dan ditunggu hasilnya. Jadi, yang diharapakan itu adalah hasil jerih payah dirinya dan bantuan kekuatan lainnya. Bahkan harapan itu tidak bersifat egosentris berbeda dengan keinginan yang menurut kodratnya bersifat egosentris, usahanya adalah memiliki. Harapan tertuju kepada “Engkau” sedankan keinginan “aku”, harapan itu ditutunjukkan kepada orang lain atau kepada Tuhan. Keinginan itu untuk kepentingan dirinya meskipun pemenuhan keinginan itu melalui pemenuhan keingingan orang lain. Misalnya melakukan perbuatan sedeqah kepada orang lain: orang lain terpenuhi keinginan dan sekaligus orang yang bersedeqah juga terpenuhi keiinginannya, yaitu kebahagiaan sewaktu berbuat baik kepada orang lain.
Menurut macam-macamnya ada harapan yang optimis dan ada harapan yang pesimistis (tipis harapan). Harapan yang optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan tanda-tanda yang dapat dianalisis secara rasioal, bahwa sesuatu yang aka terjadi bakal muncul. Dalam harapan pesimistis ada tanda-tanda rasional tidak bakal terjadi.
Harapan itu ada karena manusia itu hidup penuh dengan dinamikanya, penuh dengan keinginannya atau kemauannya. Harapan untuk setiap orang berbeda-beda kadarnya. Orang yang wawsan berfikir luas, harapannya pun akan luas. Demiian pula orang yang berwawasan pikiran sempit, maka akan sempit pula harapannya.
Besar kecilnya harapan sebenarnya tidak di tentukan oleh luas atau tidaknya wawasan berfikir seseorang, tetapi kepribadian seseorang dapat menentukan dan mengontrol jenis, macam, dan besar kecilnya harapan tersebut. Bila kepribadian seseorang kuat, jenis dan besarnya harapan akan berbeda dengan orang yang kepribadianya lemah. Kepribadian yang kuat akan mengontrol harapan seefektif seefesien mungkin sehingga tidak merugikan bagi dirinya atau bagi orang lain, untuk masa kin atau untuk masa depan, bagi masa di dunia atau di masa akhirat kelak.
Harapan seseorang juga ditentukan oleh kiprah usaha atau berkerja kerasnya seseorang.orang yang berkerja keras akan mempunyai harapan yang besar untuk memperoleh harapan yang besar, tetapi kemampuannya kurang, biasanya disertai dengan bantuan unsur dalam, yaitu berdoa.
C.    Pengertian DOA
Orang yang berdoa bukan hanya sekedar sadar bahwa kekuatannya lemah, tetapi ada unsure keyakinan bahwa berdoa itu merupakan kewajiban.
“Dan berfirman Tuhan kamu: berdoalah kamu kepadaKu, juga Aku akan mengabulkan doa mu” (QS. Al-mukminun 60,68)
“Maka wajib atas kamu berdoa” H.R. Turmidzi
“Hal lain yang menyebabkan harapan disertai doa ialah kesadaran bahwa mansia itu lemah” QS. An-Nisa, 28
Kelemahan manusia itu, dilukiskan sebagai berikut:
1.      Manusia hidup kondisi ketidakpastian. Hal yang penting bagi keamanan dan kesajahteraan manusia berada diluar jangkauannya dengan kata lain, manusia ditandai oleh ketidak pastian.
2.      Terbatas kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan untuk mempe-ngaruhi kondisi hidupnya. Pada titik tertentu, kondisi manusia ada dalam kaitan konflik antara keinginan dan cita-cita dengan lingkugannya, yang ditandai oleh ketidakberdayanya.
3.      Manusia hidup bermasyarakat, yang ditandai dengan adanya alokasi teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, pembagian kerja, produksi, dan ganjaran. Manusia membutuhkan kondisi imperatif (keterpaksaan), yakni adanya suatu tingkat superordinasi dan subordinasi atau berbagai aturan dalam hubungan manusia.
Kemudian masyarakat beraada ditengah tengah kondisi kelangkaan, yang menyebabkan adanya perbedaan distribusi barang dan nilai. Dengan demikian timbullah deprivasi (perampasan) yang bersifat relatif.
Dalam konteks “ketidakpastian” manusia ditunjukkan kenataan semua usaha manusia bahwa, betapapun ia merencanakan dengan baik dan melaksanakannya dengan saksama, ia tetap tidak terlepas dari kekecewaan. Dalam usahanya, mansia melibatkan emosi yang tinggi sehingga kekecewaan ini akan membawa luka yang dalam. Dalam dnia tekologi modern pun, yang penuh dengan perhitungan kebe-runtungan tetap merupakan suatu berkat dari ketidakpastian. Dalam konteks “ketidakmugkinan” ditunjukan bahwa semua keinginan tidak dapat terkabul. Kema-tian, penderitaan, kecelakaan, dan seterusnya, itu semua menandai eksistensi manu-sia. Pegalamam manusia dalam konteks “ ketidakpastian” atau “ketidakmungkinan” membawanya keluar dari situasi prilaku social dan batasan kultural dan tujuan dan norma sehari hari. Resep-resep social dan kultural tidak memeiliki kelengkapan total sebagai penyediaan “mekanisme” penyusuaian. Kedua hal ini menghadapkan manusia pada kondisi “titik kritis “dengan lingkungan prilaku sehari-hari yang terstruktur. Maka dari semua peristiwa ini, yang ada hanya doa dan harapan.
Doa dan harapan pada hakikatnya merupakan proses hubgungan antara manusia dengan Tuhannya dan atara manusia dengan manusia. Proses hubungan ini lebih lanjut dapat diartikan memohon pertolongan, mengingat, meminta perlin-dungan, mendekatkan diri (silaturrahmi dengan manusia, taqarrub dengan Tuhan).
D.    Pengertian Kematian dan Maut
Pembicaraan mengenai kematian atau maut ini meliputkan pembicaraan ten-tang arti kematian, proses kematian, fungsi kematian dan maknanya. Setiap saat manusia dikungkung oleh kematian, dan setiap hari kita berjumppa dengan iring-iringan jenazah. Penyebab kematian bermacam-macam seperti kece-lakaan, perang, serangan penyakit, dan lain-lain.
Biasanya orang takut mati dan kematian itu mengejutkan, bahkan ada orang yang tidak mau melihat orang yang mati. Tetapi, ada juga orang yang bersahabat dengan kematian karena orang tersebut mempunyai prinsip bahwa hidup ini menuju mati, mati adalah sesuatu yang menarik dan menghibur serta penawar kesulitan. Pendapat ini cukup beralasan, tetapi lebih penting lagi mencari makna maut.
Semua makhluk hidup yang ada di muka bumi tidak kekal, pada suatu saat nanti pasti mengalami kematian. Karena manusia sadar atau tidak sadar terhadap kematian, maka kmatian atau maut menimbulkan persoalan bagi manusia. Misalnya, manusia yang menyadari kematian dan berusaha sebaik-baiknya untuk menghadapi kematian. Sebab kematian merupakan bagian dari proses kehidupan mansia sebagai makhluk tuhan. Manusia yang tidak menadari kematian sering terjerumus kedalam sikap dan prilaku yang tidak sesuai dengan agama.
Manusia mengakhiri hidupnya didunia ini dengan kematian, semanya ini adalah pengalaman. Kematian manusia menimbulkan problema besar. Mnusia merasa bingung dan tercengan dalam menghadapi kematian. Sikap manusia terhadap kematian beraneka ragam, ang bersifat budaya dan ada yang bersifat keagamaan, bahkan ada yang berusaha mengatasi peristiwa kematian tersebut. Bagi kita yang masi hidup, kematian merupakan data empiris. Tetapi, dapatkah kita dengan data-data empiris ini mengambil kesimpulan yang menyeluruh? Jawabanya sangat sulit, sebab kematian adalah pengalaman. Kesimpulan tentang kematian sering diperoleh dari sumber-sumber agama atau kepercayaan, seperti dikaitkan dengan masalah surge dan neraka.
1.      Pengetian Mati
Kata mati berarti tidak ada gersang, tandus, kehilagan akal dan hati nurani, kosong, berhenti, padam, buruk, lepasnya ruh dari jasad QS. AL-Baqarah 28, 164 Al-Ahzab 52 Al-An’am 95. Pengertian mati yang sering dijumpai dalam istilah sehari-hari :
a.       Kemusnahan dan kehilangan total ruh dari jasad.
b.      Terputusnya hubungan antara ruh dan badan.
c.       Terhentinya budi daya manusia secara total.
Mengenai pengertian mati yang pertama dan kedua diatas, kalau dikaji dengan keterangan-keterangan yang bersumber dari agama (islam), maka kematian bukanlah kemusnahan atau terputusnya hubungan. Kematian hanya lah terhentinya budi daya manusia pada alam pertama, yang menanti akan dilanjutkan kehidupannya pada alam kedua. Ajaran agama menggabarkan konsepsi adanya pertalian alam dunia dan akhirat serta menggabarkan prinsip tanggup jawab manusia selama hidup didunia. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW. Sebagai berikut:
“apabila anak adam telah mati, terputuslah dari padanya budidayanya kecuali  3 perkara: sedeqah jariyah, ilmu yang berguna, atau anak soleh yang mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya”
Demikian pula difirmankan Allah SWT:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. QS. Al-Baqarah 54
2.      Proses kematian (sakaratul maut).
Proses kematian seseorang beraneka ragam, mulai dari proses mati dengan tenang sampai pada proses mati dengan terlebih dahulu mengalami kecelakaan dan sebagainya. Ini semua peristiwa lahir. Demikian pula dalam sikap batin, manusia menghadapi kematian bermacam-macam. Menurut ukuran agama, misalnya, ada yang mati dalam keadaan iman atau sebaliknya. Kesemuanya mempunyai penilaian atau penghargaan menurut dimensi agama yang berbeda-beda. Seseorang yang mati syahid (membela agama) kedudukannya berbeda dengan seseorang yang mati bukan syahid.
Proses kematian manusia tidak dapat diketahui atau digambarkan dengan jelas kerena menyangkut segi fisik dan segi rohani. Dari segi fisik dapat diketahui secara klinis yaitu seseorang dikatakan mati apabila pernafasannya dan denyut jantungnya berhenti. Dari segi rohani ialah proses ruh manusia melepaskan diri dari jasadnya. Proses kematian dari segi rohani ini sulit digambarkan secara indrawi, tetapi nyata terjadi.
Istilah untuk proses kematian adalah sakaratul maut. Artinya bingung, ketakutan, dan kedahsyatan saat sedang dicabut ruhnya dari badan perlahan-lahan. Menjadi beku, pertama kakinya dingin membeku, perlahan-lahan bergeser kepaha sampai kerongkongan, kemudia mata terbelalak keatas mengikuti lepas ruhnya.

3.      Fungsi kematian
Fungsi kematian ada apabila jawabannya bersumber dari ajaran-ajaran agama. Ajaran agama tidak memandang semata-mata kematian fisik, tetapi berfungsi roha-ninya. Yaitu memberikan pelepasan kepada manusia sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu hidup. Orang yang mengikuti ajaran agama dengan sebenarnya dan sebaiknya-baiknya akan dijamin masuk surga dan sebaliknya, orang yang tidak mengikuti ajaran agama akan masuk neraka. Kalau demikian, kematian itu dapat merupakan bencana atau nikmat. Fungsi kematian adalah untuk menghentikan budidaya, prestasi, dan sumbanagn seluruh potensi kemanusiaannya. Maka kematian itu bukan akibat kesalahanya atau dosa kepada orang lain, atau tumbal, melainkan karena takdir.


4.      Sikap menghadapi kematian
Sikap menghadapi kematian adalah kecendrungan perbuatan manusia dalam meghadap kematian yang diyakininya bakal terjadi. Sikapnya bermacam-macam, sesuai dengan keyakinan dan kesadarannya.
a.       Orang yang menyiapkan dirinya dengan amal perbuatan yang baik karena menyadari bahwa kematian bakal dating dan mempunyai makna rohaniah.
b.      Orang yang mengabaikan peristiwa kematian, yang mengganggap kemati-an sebagai peristiwa alamiah yang tidak ada makna rohaniahnya.
c.       Orang yang merasa takut atau keberatan untuk mati karena terpukau oleh dunia materi.
d.      Orang yang ingin melarikan diri dari kematian karena menganggap bahwa kematian itu merupakan bencana yang merugikan, mungkin karena banyak dosa hidup tanpa norma atau beratnya menghadapi keharusan menyiaplkan diri untuk mati.
Dari uraian diatas dapat dikemukakan pokok-pokok pikiran tentang mati sebagai berikut:
a.       Mati adalah berhentinya budi daya manusia seara total.
b.      Proses kematian menyangkut segi fisik dan segi rohani.
c.       Sikap manusia menghadapi kematian bermacam-macam.
d.      Kematian merupakan pengalaman akhir dari hidup seseorang.
e.       Kesimpulan, konsepsi, atau pengertian tentang kematian lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber agama seperti wahyu atau ajaran agama lainnya.
5.      Makna kematian
Menurut B.S.Mardiatmadja (1987), makna dibalik kematian itu adalah maut sebagai putusnya segala relasi, sebagai kritik atas hidup, sebagai pelepas, sebagai awal hidup baru, dan hanya tuhan yang merupakan penguasa hidup dan maut.
Maut sebagai putusnya segala relasi, maut adalah putusnya segala relasi karena segala relasi terputus dengannya. Mati merpuakan perpisahan, sebab si mati tidak dapat bertemu dengan kita, dan kita tidak dapat bertemu dengan simati. Si mati tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak sempat dilakukannya, demikian pula yang hidup tidak dapat mengerjakan sesuatu untuk simati, misalnya membalas kebaikan, memujinya dan sebagainya.
Maut sebagai kritik atas hidup, maut adalah arah utama dari hidup. Segala macam dimensi kebanggaan menjadi lenyap. Yang cantik, kekar, cerdas, dan sebagainya, menjadi layu dan lenyap. Tidak ada sedikitpun harta benda yang dimiliki terbawa kekuburan. Hanya batu nisan dan upacara penguburan antara sikaya dan simiskin. Si mati sama saja, baik orang terhormat ataupun gembel. Maut adalah kesamarataan yang adil kepada semua manusia. Segala macam keangkuhan, tirani atau kekuasaan menjadi ciut dihadapan maut.
Maut sebagai pelapasan, pahit getirnya mengurangi kehidpuan di zaman modern, semakin sukarnya menghadi tuntutan zaman seperti sekolah, mencari nafkah, mencari kerja, tuntutan lingkungan dan sebagainya keadaan lingkungan yang kejam, penindasan, pemerasaan, bahkan memadu cintapun mungkin semakin terasa mengandung racun, semuanya itu dihayati sehingga sampai pada pemikiran bahwa maut merupakan pelepasan dari penderitaan hidup. Dalam kasus-kasus di kota besar, sering terjadi pelajar membunuh diri demi membebaskan diri dari penderitaan, dari kerasnya persaingan hidup, atau merasa terasing, tidak merasakan cinta dan kasih saying orang tuanya.
Maut sebagai awal hidup baru, dalam suatu keyakinan agama, mati itu adalah awal dari hidup. Bahkan dalam bahasa agama, orang yang mati dalam jalan membela agamanya, tidak dikatakan mati, tetapi mereka itu hidup QS. Al-Baqarah, 154. Jadi, mati dalam hal ini merupakan perahilan kehidupan baru. Tetapi, pernyataan ini hanya sebagai harapan manusia, sebab menusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali. Dalam suatu kepercayaan dikatakan bahwa kematian merupakan buah pekerjaan dan sukses hidup yang sejati sehingga orang yang sudah dapat ditentukan daya tahan hidupnya menurut ilmu kedokteran, dapat dengan tenang menghadapi maut. Dengan kesadaran semacam ini, kematian dianggap sebagai menyambut persatuan dengan orang yang tercintai. Kesadaran semacam ini merupakan “pengharapan”. Bila manusia mau tabah menghadapi kematian, maka perlu kepastian tentang hidup. Hal ini penting sebab kematian tetap akan dapat menjemput manusia. Maka lebih bijaksana apabila manusia menyambut dengan penuh kesadaran. Atau sama sekali jangan memikirkan kematian, sebab kematian itu bukan urusan manusia.
Tuhan sebagai penguasa hidup dan mati, seseorang yang menganut agama atau suatu kepercayaan mengakui bahwa tuhan adalah penguasa hidup dan mati. Keyakinan ini tidak berlaku bagi seorang yang bernama Nabi Isa a.s. Nabi Isa dengan membawa suatu tanda (mu’jizat), mampu meniupkan ruh sehingga burung menjadi hidup dan menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah (QS Ali-Imran, 49). Nabi Isa dapat melakukan demikian, tetapi itu pun seizin tuhan. Dengan demikian, tetaplah hidup dan mati itu milik tuhan. Nabi isa pun kematiannya masih misterius. “Nabi Isa tidak mati; tetapi diangkat Allah kesisiNya(QS An-Nisaa 157). Kematian semua manusia, atau isa dengan mu’jizatNya dapat menghidupkan orang yang mati dan ia sendiri tidak mati, adalah atas kehendak tuhan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang lemah dan memiliki keterbatasan dalam berbuat atau melakukan suatu tindakan. Oleh karena itu, manusia tidak pernah terlepas dari doa dan harapan dan Allah memerintahkan kepada manusia untuk berdoa kepadanya niscanya Allah akan mengabulakan doa mereka.
Manusia sebagai makhluk yang bernyawa, tidak pernah terlepas dari kema-tian. Kita tidak dapat bersembunyi dari maut karena janji Allah itu benar adanya. Oleh karena itu, dalam menghadapi kematian, kita selaku manusia hendaknya memperbanyak amal atau pahala. Karena denagn amal lah kita dapat mendapatkan kehidupan yang tenang di akhirat kelak
B.     Saran
Hidup di dunia ini hanya sementara dan sudah kodratnya manusia mengharapkan kehidupan yang layak dimuka bumi ini. Oleh karena itu jangan pernah berhenti berdoa kepadaNya karena hanya kepadaNyal lah kita bergantung dan berserah diri. Kemudian, perbanyaklah berbuat kebajikan di dunia untuk persiapan kita menghadapi kematian yang telah Allah janjikan kepada kita selaku makhluk yang bernyawa.








Daftar Pustaka
Soelaeman Munandar, Ilmu Budaya Dasar, ( Bandung: PT Refika Aditama, 2005)
Tri Prasetya Joko, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998)

https://aristasefree.wordpress.com/tag/pengertian-manusia-menurut-agama-islam/