Monday, November 23, 2015

STOPE DENGAN PENYANGGA BUATAN - DASAR-DASAR METODE TAMBANG BAWAH TANAH - BAB III





BAB 3
STOPE DENGAN PENYANGGA BUATAN



Apabila batuan dinding atau bijih bersifat lemah dan akan terjadi runtuhan jika ditambang secara open stoping, maka diperlukan metode penyangga untuk menghindari terjadinya runtuhan waste rock, atau terjadinya penyempitan dan pelebaran stope.

Selama bertahun-tahun, timber telah menjadi alat untuk penyanggaan untuk badan bijih tipis yang tidak sesuai dilakukan penambangan dengan shrinkage stoping. Walaupun demikian, setelah penambangan dalam dan biaya timber bertambah mahal, maka semakin diperlukan alternatif lain dalam metode penyanggaan.

Selama dua puluh tahun terakhir, kecenderungan penggunaan timber telah beralih ke metode cut and fill dengan pertimbangan ;
1 Meningkatnya atau mahalnya biaya timber
2 Meningkatnya biaya buruh dan berkurangnya ahli timber (perkerja timber)
3.    Berkembangnya  metode  penyanggaan  atap,  seperti  baut  batuan  untuk melindungi pekerja dari jatuhan batuan atap
4.    Berkembangnya pengisian hidraulik (hidraulic filling) yang secara mudah dapat  membawa  material  filling  ke  pemuka  kerja  dan  akan  segera mengeras dengan kekuatan tinggi. Filling seperti ini akan secara menyeluruh menyangga dinding-dinding stope, mengisi rongga-rongga dan memberikan lantai kerja yang stabil dan rata untuk pekerja.

3.1 SHRINKAGE STOPING

Sebagaiman dengan sublevel stoping, shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar dengan kemiringan 50 90(steeply). Metode ini terletak diantara kelas open stope dan filled stope. Bijih dihancurkan secara metode overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. Mengingat bijih yang telah dihancurkan akan mengembang (35%), maka harus segera diambil untuk
memberikan ruangan yang cukup bagi pekerja untuk melakukan kegiatan diantara atas bijih lepas dengan atap.

Apabila bijihnya  lemah,  maka  bagian  atadi  atas  pekerja  harus  disangga dengan baut batuan selama penambangan. Dinding stope  secara otomatis akan disangga oleh bijih lepas sampai kegiatan penambangan bijih selesai, selanjutnya bijih diambil secara keseluruhan, sehingga membentuk stope yang kosong yang disebut open stope atau shrinkage stoping. Dalam kasus ini, apabila  dikhawatirkan  akan  terjadi  runtuhan  dahal  yang  tidak diinginkan, maka stope dapat diisi dengan waste yang berasal dari stope di atasnya yang sedang melakukan kegiatan penambangan, yang disebut dengan filled stope atau shrinkage and fill.







Development yang dilakukan mirip dengan sublevel stoping, namun tidak mempunyai sublevel. Penambangan bijih dilakukan pada sayatan horizontal, dimulai dari bagian atas mengarah ke atas melalui suatu manway. Manway ini dibuat dekat pillar yang memisahkan stope yang berdekatan. Pillar vertikal berukuran lebar diatas 40 ft. Cara lain untuk masuk kedalam stope adalah melalui atau membuat cribbed manway dari haulage drif menembus bijih lepas. Cribbed manway ini selalu diperpanjang mengikuti kemajuan penggalian bijih. Apabila penggalian dalam stope telah selesadan bijih telah diambil, Pillar dapat ditambang dengan meledakkan dalam suatu stope yang telah kosong atau menggunakan square set timber support.

Gamba 3.2   memperlihatkan   shrinkage   stoping,   dimana   raise   dibuat berdekatan  dengan  pillar  vertikal  disetiap  sisi  stope.  Sedangkan  cross  cut dibuat untuk mengawali penambangan bijih setiap interval 25 ft, sehingga pilla vertikal akan terbagi menjadi beberapa rib pillar. Bijih lepas kemudian digali dengan sistem penggaruan melalui grizzly bars yang terletak pada scram level sebelum dimuat kedalam kereta tambang di bawahnya.

Grizzly tersusun atas sejumlah balok besi berjajar dengan jarak 4 8 inci yang ditempatkan dibagian atas chute untuk menghindari tersumbatnya chute oleh gumpalan bijih yang besar. Grizzly ini juga mencegah terperosoknya pekerja ke dalam chute. Bongkah bijih yang berukuran besar dapat diperkecil dengan scondary blasting langsung di dalam stope atau pada grizzly pada scram drif bersangkutan.

Aplikasi
1.    Ideal untuk bijih dengan kemiringan 50o   90o  (steeply) yang lebih besar dari sudut gelincir broken ore.
2 Urat sempit sampai lebar.
3 Badan bijih dengan bentuk teratur untuk menghindari losses dan dilusi.
4 Ketebalan bijih lebih dari 5 meter.
5.    Hangingwall  dan  footwall  dinding  cukup  stabil,  sehingga  crushing  dan spalling bila broken ore diambil.
6.    Untuk bijih yang broken ore tidak menggumpal bila ditumpuk dalam waktu lama  di  dalam  stope  dapat  terjadi  spantaneous  combustion  (broken sulphide ore).
7 Bijih harus kuat, sehingga penyanggaan pada atap minimal.
8 Kadar sebaiknya seragam, karena tidak memungkinkan sorting.

Keuntungan
1 Biaya development rendah
2 Kebutuhan timber sedikit
3 Biaya ventilasi murah
4 Sederhana dan mudah dikerjakan
5 Development cepat, sehingga recovery bijih juga cepat
6 Blok berukuran besar dapat diledakkan di dalam stope
7 Sebagian besar pekerja dapat bekerja dalam stope







Kerugian

1 Selalu terjadi runtuhan waste dari dinding yang menyebabkan dilusi
2 Sukar untuk menambang atau mengambil off-shoots
3.    Bijih ditinggalkan dalam stope dengan waktu yang lama, sehingga investasi tidak segera kembali
4.    Metode ini mempunyai persyaratan yang sangat ketat, dan hanya cocok pada bijih tertentu.
5.    Kondisi lantai (terdiri dari broken ore) kurang nyaman untuk pergerakan para pekerja dan peralatan
6 Bijih yang terletak pada waste rock tidak dapat ditambang
7 Untuk menghindari runtuhan, maka stope perlu di filling
8 Kondisi kerja yang berbahaya, khususnya pada saat penarikan ore

Keuntungan shrinkage stoping stoping dari pada sublevel

1 Developmen lebih sedikit
2.    Kontak  dengan  dinding  cebakan  lebih  baik,  sehingga  memungkinkan memperoleh semua bijih dalam stope
3.    Dinding penggalian setiap saat disangga dengan bijih lepas, sehingga lebih sedikit dilusi dari dinding.
4 Bijih dapat dihancurkan lebih kecil dalam stope
5 Dapat diterapkan pada batuan lebih lemah

Keuntungan sublevel stoping dari pada shrinkage stoping

1 Resiko kebakaran lebih kecil pada penambangan cebakan sulfida
2.    Konsumsi  bahan  peledak  lebih  sedikit,  karena  bijih  lepas  akan  lebih terintergrasi pada saat bergerak dalam stope
3 Kondisi penerapan sublevel stoping lebih fleksibel
4 Sarana memasuki pemuka kerja lebih mudah
5.    Diperlukan sedikit pekerja, pemboran dilakukan lebih efisien dengan long hole drill








Gambar 3.1 Shrinkage Stoping pada bijih vertikal yang besar



Gambar 3.2 Shrinkage Stoping dengan grizzly drift







3.2 CUT AND FILL STOPING

Metode cut and fill menerapkan urutan kerja dimana bijih diambil dalam potongan  (paralel  slice).  Setiap  potongan  yang  telah  diambil  dilakukan pengisian dengan waste fill dalam stope, hanya menyisakan ketinggian ruang yang mencukupi untuk melakukan pemboran bijih. Pekerjaan persiapan penambangan hampir sama dengan sublevel stoping dan shrinkage stoping.

Dalam metode ini, penambangan mengarah ke atas haulage way (cross cut, drive, dll) dengan membuat cribed ore chute dan manway. Material filling digunakan sebagai tempat berpijak. Apabila bijih diledakkan dan telah diambil, maka timbered chute dan manway diperpanjang sebelum dilakukan kegiatan filling.

Pada  cut  and  fill,  stoping  dibuat  secara  horizontal  atau  miring.  Bagian punggung (back) akan lebih mudah disangga pada stoping horizontal dibandingkan dengan kondisi stoping miring, lagi pula penggunaan lubang bor horizontal pada peledakan akan membentuk back dengan kondisi lebih baik dibandingkan dengan pemboran vertikal atau miring. Back yang miring menpunyai keuntungan bijih lepas dapat dipindahkan dengan memanfaatkan gaya berat.

Material filling seringkali berupa waste rock dari kegiatan development dan eksplorasi disekitar tambang, kemudiaditumpahkan melalui raise  ke  arah stope yang akan diisi. Mill tailling merupakan salah satu sumber material filling terbaik untuk mengisi stope. Apabila tailling ini telah dikentalkan menjadi sekitar
70% padatan, maka tailling ini dapat dibawa melalui pipa dan ditumpahkan ke dalam  stope,  untumeningkatkan  kekuatan  material  pengisi  dapat ditambahkan semen.

Aplikasi

1.    Untu menggantika subleve stoping   da shrinkag stopin pada penambangan yang sangat dalam, dimana tegangan batuan sangat besar.
2.    Badan bijih harus kompeten mengingat pekerja harus berada di bawah back bijih.
3.    Hangingwall dan footwall boleh tidak kompeten, karena batuan ini akan langsung disangga dengan material filling.
4.    Bijih  dengan  batas  yang  tidak  teratur  dan  bijih  yang  diskontinu,  maka dilakukan penambangan pada bijih yang berkadar tinggi saja, sedangkan bijih yang berkadar rendah ditinggalkan sebagai filling.
5.    Untuk mengambil pillar yang berkadar tinggi, maka pillar harus terletak di antara dua stope pada sublevel stoping.
6 Kemiringan bijih < 65o bisa menyebabkan dilusi.







Keuntungan

1.    Metode  filling  memberikan  tingkat  selektifitas  lebih  tinggi  dibandingkan dengan shrinkage dan sublevel stoping.
2 Ventilasi lebih mudah di atur pada stope.
3 Dilusi dapat dilakukan semenimal mungkin.
4.    Dinding di antara dua stope yang berdekatan bisa lebih tipis dibandingkan dengan metode stoping lain.
5.    Stope fleksibel mengikuti cebakan sempit yang berkadar tinggi (misalnya pada urat emas).
6 Stabilitas stope dijamin dinding yang lemah disangga dengan waste filling.

Kerugian

1 Memerlukan material filling yang mahal.
2 Memerlukan lebih banyak buruh untuk menangani filling.
3.    Diperlukan air yang banyak untuk pulp, dan air tersebut harus dipompa kembali ke permukaan.
4 Lebih mahal dibandingkan shrinkage dan sublevel stoping.
5 Semen dan pasir halus untuk filling bisa menyumbat pompa dan pipa.
6 Output dari stope terbatas, karena adanya kegiatan filling.





Gambar 3.3 Penambangan Metode Cut and Fill pada Bijih vertikal yang besar








Gambar 3.4 Metode Cut and Fill di Mcintyre Porcupine Mines




3.3  SQUARE SET STOPING

Pada metode ini, bekas penambangan  secara sistematis disanggdengan timber. Development dilakukan hampir sama seperti stull stoping. Pada pelaksanaan stoping, suatu blok bijih dengan ukuran yang cukup (seukuran dimensi   square   set)   diledakka langsun dilanjutka denga kegiatan timbering Sisi-sisi   timber   yang   berdekata dirangka sedemikian   rupa, sehingga saling memperkuat satu sama lain. Hal ini akan membentuk struktur yang menerus.

Fungsi utama square set adalah sebagai penyangga sementara terhadap dinding dan atap suatu daerah bekas peledekan dan sebagai jalan masuk ke daerah kerja. Penyanggaan permanen dinding stope dilakukan dengan mengisi rongga square set dengan material filling yang terdiri dari waste rock atau hidraulic filling. Apabila penambangan terus berlangsung, maka timbering atau filling  secara  bertahap  juga  berlangsung  secara  horizontadan  vertikal mengikuti bentuk penggalian bijih.

Gambar 3.5 merupakan bentuk square set standart yang digunakan di tambang Inco’s Creighton dekat Sodbury. Stope ditambang secara overhand dengan ketinggian 7 feet setiap potongan horizontal. Potongan awal dilakukan atau diawali di atas haulage way.








Gambar 3.5 Square set stoping



Aplikasi

1.    Metode ini dahulu banyak diaplikasikan, saat ini digantikan dengan metode caving dan cut fill
2.    Cebakan bijih dengan nilai tinggi, dimana ekstraksi yang sempurna lebih penting dibandingkan dengan biaya penambangan
3 Cebakan dengan ketebalan lebih besar 3 meter
4.    Pada cebakan yang tidak kompeten, stope memerlukan penyanggaan yang sistematis dengan timber.
5.    Cebaka denga kondisi   struktural   yan berubah-ubah kemudian mempunyai off-shoots dan kantong-kantong dengan batas yang tidak teratur.
6.    Cebakan  yang  belum  diketahui  atau  sangat  sedikit  diketahui  tentang karakter batuannya
7 Cebakan bijih sulphide dapat terkena oksidasi
8 Dapat mengambil pillar yang terletak diantara dua stope







Keuntungan
1 Ekstraksinya tinggi
2 Dapat diterapkan untuk menambang pada sembarang kondisi batuan
3 Bijih disangga secara menyeluruh, sehingga menimbulkan rasa aman
4 Penanganan ventilasi mudah
5 Relatif aman dari kebakaran pada penambangan bijih sulphide
6.    Fleksibel, arah kemajuan stope dapat diatu mengikuti arah penyebaran bijih
7 Bisa diapilikasikan untuk segala jenis kondisi batuan

Kerugian
1 Biaya pekerja dan material sangat tinggi (extremely labour intensive)
2 Tidak memungkinkan mekanisasi secara penuh
3 Kemungkinan timbulnya bahaya kebakaran dari timber
4 Ekstraksi sangat lambat
5 Pemasukan kayu bisa menyulitkan ventilasi
6 Memerlukan material filling yang banyak

3.4  STULL STOPING

Stull stoping termasuk ke dalam metode dengan penyanggaan yang dilakukan secara overhand. Metode ini menggunakan pillar buatan dari waste rock dan stull timber yang menyangga dan melintang pada stope. Stull dipasang pada geometri yang sistematis yang berfungsi sebagai ;
-     berpijak pekerja dan peluncur bijih (ore slides)
-     membentuk corongan dan manway lining
-     sebagai penyangga lokal

Development dimulai dengan membuat haulage drift disetiap stope blok. Kemudian membuat chute ke atas menembus bijih sebagai serana ventilasi disetiap stope dan untuk menaik-turunkan material dan peralatan tambang. Ore pass dan manway diperpanjang ke atas mengikuti kemajuan penambangan. Bijih lepas di stope akan jatuh secara gaya berat dan diarahkan atau dipandu oleh papan luncur menuju ore pass dan jatuh juga ke haulage drift. Setelah penggalian kemudian disangga oleh stulls dan platforms yang dipasang melintang di bawah atau di atap tempat kerja. Apabila penambangan suatu blok telah selesai (telah mencapai ketinggian badan bijih yang ditetapkan), maka daerah bekas penambangan ditinggalkan sebagaimana adanya.

Aplikasi
1 badan bijih dengan ketebalan 5 7 meter
2.    bada bijih   denga kemiringa 50o     –   90o     yan memungkinkan pemanfaatan gravitasi
3.    bijih  dengan  kemiringan  kurang  dari  45o    memerlukan  slusher  untuk mengambil broken ore
4.    bijih berkadar tinggi yang lebih memerlukan recovery tinggi dibandingkan dengan biaya penambangan







5.    sebagai alternatif metode cut and fill, bila material filling tidak tidak tersedia atau bila tersedia pasokan timber yang murah
6.    batuan dinding cukup kompeten, sehingga rongga bekas penambangan tidak perlu difilling

Keuntungan
1 bijih dapat disortir di dalam stope dan waste ditinggalkan di dalam stope
2 dapat digunakan untuk menambang bijih yang mempunyai batas tidak jelas
3 relatif memberikan kerja yang aman
4 dapat diubah menjadi metode lain, misalnya cut and fill

Kerugian
1 Memerlukan penyanggaan timber yang banyak
2.    Dalam jangka waktu lama, kekuatan timber berkurang dan dinding stope dapat runtuh atau menimbulkan amblesan
3 Pekerja yang mahal dan sukar memperoleh buruh trampil








































Gambar 3.6 Stull stoping







3.5 LONGWALL MINING

Longwall   mining   merupaka metod ekplotaitasi   yang   diterapka pada cebakan mendatar, tipis dan tabular. Metode ini asalnya diaplikasikan untuk endapan batubara.

Aplikasi

1.    Hany untu cebaka tipis   (1- meter)   denga ketebalan   merata, umumnya dengan penyebaran mendatar.
2.    Untuk batuan dengan kondisi yang kompeten (misalnya tambang emas di Afrika  Selatan)  atau  inkompoten  (misalnya  untuk  tambanbatubara) daerah kerja akan disangga
3 Kemiringan kurang dari 30o

Keuntungan

1 Ekstraksi (recovery) tinggi
2 Cepat berproduksi (pengembalian modal cepat)
3 Development sederhana hanya memerlukan haulage drift

Kerugian

1.    Kedalaman rendah, kadang-kadang memerlukan unit-unit yang digerakkan secara manual (sebaliknya untuk batubara bisa dilakukan dengan mekanisasi penuh)
2 Biasanya berproduksi rendah
3 Selalu terjadi bahaya ambrukan atap
4 Memerlukan penyangga yang sistematis
5 Hanya bisa diterapkan untuk lapisan bijih tipis






Gambar 3.7 Longwall mining untuk bijih







Gambar 3.8 Longwall mining untuk batubara







3.6  UNDERCUT AND FILL

Selama bertahun-tahun, metode square set merupakan merupakametode paling  efektif  untupenambangan  pillar  recovery.  Apabila  kondisi  batuan sangat jelek, square set menjadi sangat mahal daberbahaya. Mengingat tonase yang diambil dari pillar meningkat, maka diperlukan cara lebih aman dan lebih murah.

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa cara terbaik untuk mengatasi batuan jelek adalah dengan melakukan penggalian dari atas ke bawah. Disini top slicing telah pula dikaji tetapi ditolak, karena akan terjadi ambrukan, walaupun demikian, ide dasar dari top slicing merupakan inspirator untuk perkembangan undercut and fill.

Metode undercut and fill telah menggantikan square set dengan mengurangi biaya, meningkatkan keamanan dan efesiensi, mengeliminasi faktor kondisi atayang jelek, dan memberikaprediksi siklus  penambangayang  lebih tepat. Hasilnya adalah memberikan ketepatan penjadwalan lebih baik terhadap produksi pillar.

Undercut and Fill merupakan metode penggalian blok bijih dilakukan secara potongan (cut) yang bertahap, dimulai dari bagian atas ke bawah. Potongan pertama umumnya dilakukan dengan metode square set. Setelah penggalian selesai, maka dipasang laminated timber stringer sepanjang sisi penggalian. Kayu gelondongan yang dilengkapi dengan anyaman kawat (wire mesh) kemudian dipasang melintang terhadap stringer, sehingga membentuk mat.

Ruang penggalian selanjutnya diisi dengan semen dan pasir secara hidraulik. Penggalian  kemudian  dilanjutkan  pada  cudibawahnya  tepadibawah  mat yang terlah terbentuk sebelumnya. Selama kemajuan penggalian, maka timber stringer disangga oleh kayu gelondongan yang bertindak sebagai post yang terletak di dasar cut yang masih solid. Pemboran, peledakan, pemindahan bijih lepas dan timbering kemudian diulang sampai seluruh bijih dalam suatu cut diambil. Saat ini telah dipakai long mat lain (misal papan) dan cut tersebut diisi. Urut-urutan ini diteruskan sampai blok penambangan habis di setiap level.

Metode undercut and fill dikembangkan oleh Inco.ltd., pada tambang Sudbury distrik Ontario, Canada. Metode ini kadang-kadang dipakai sebagai metode utama dengan menerapkan pillar recovery. Filling dilakukan untuk mengatasi kondisi batuan yang tidak normal pada saat pengambilan pillar (pillar recovery).

Setiap metode penambangan yang menerapkan sistem pengisian, maka pillar mempunyai kecenderungan melemah seiring dengan kemajuan penambangan. Kebanyakan pillar akan runtuh pada dilakukan kegiatan pillar recovery. Kontrol atap terhadap kondisi ini menjadi masalah utama.

Pada kebanyakan metode penambangan, operasi pemboran, peledakan, penggaruan dan timbering dapat ditangani dengan mudah dalam setiap siklus







penggalian bijih, tetapi pada penambangan pillar secara  metode overhand, waktu dan kesempatan untuk melakukan penyanggaan terhadap atap sangat terbatas.

Aplikasi
1.  Sebagai metode untuk menambang rib pillar dan crown pillar
2.  Untuk operasi penambangan batuan jelek
3.  Untuk setiap kondisi dimana batuan diatas penggalian tidak dijamin karakteristiknya dengan pasti

Keuntungan
Sangat sedikit keuntungan, merupakan pilihan terakhir untuk memperoleh bijih dengan nilai ekonomis yang tinggi

Kerugian
1.  Biaya mahal
2.  Efesiensi rendah
3.  Penggunaan material sangat banyak








Gambar 3.9 Undercut and Fill









Gambar 3.10 Cut and fill dan undercut and fill dalam blok bijih yang sama







3.7 TOP SLICING

Istilah top slicing secara umum diterapkan untuk metode penambangan dimana bijih diekstraksi (ditambang) dengan cara sepotong demi sepotong (slice by slice) dimulai dari bagian atas. Slice yang telah ditambang kemudian dipisang timber,  selanjutnya  diruntuhkan  sebagai  capping  runtuh  (ambruk)  ke  lantai slice. Penambangan pada slice selanjutnya dilakukan tepat di bawah slice yang telah diruntuhkan sebelumnya, yaitu tepat berada di bawah mat atau gob yang merupakan akumulasi timber dari slice diatasnya dan broken capping.

Istilah top slicing ini juga diterapkan untuk menambang badan bijih dengan ketebalan hanya satu slice, kegiatan dilakukan dengan jalan menambang atau pembuatan timber slice dari satu sisi bergerak ke sisi lainnya, setelah terlebih dahulu meledakkan timber. Slice yang telah diledakkan akan meruntuhkan timber dan capping ke lantai.

Pada klasifikasi metode penambangan menurut USBM, top slicing dimasukkan dalam  kelompok  metode  caving.  Secara mendasar,  sebenarnya  top  slicing berbeda dengan metode caving. Pada metode caving hancurnya bijih disebabkan oleh runtuhan akibat pembuatan under cutting di bawah bijih. Sedangkan pada top slicing, hancurnya bijih disebabkan oleh cara yang umum yaitu pemboran-peledekan dan hanya capping yang hancur karena runtuhan.

Aplikasi

1.    Bijih mempunyai capping lemah yang segera runtuh apabila penyangga dibawahnya dihancurkan (diambil)
2.    Dinding-dinding lemah atau kuat. Hangingwall yang lemah sangat cocok untuk top slicing, karena hangingwall yang kuat akan gagal membentuk runtuhan yang sempurna
3 Tersedianya pasokan timber yang cukup dan murah
4 Diijinkan terjadinya amblesan dan runtuhan permukaan tanah
5.    Mengambil pillar diantara stope pada badly broken ground, sehingga tidak memungkinkan ditambang secara overhand stoping

Keuntungan

1.    Merupakan  metode  yang  aman  untuk  heavy  ground,  dimana  tidak ekonomis dan aman ditambang secara overhand stoping
2 Ekonomis, khususnya apabila timber tersedia dengan harga murah
3.    Ekstraksinya tinggi dan secara teoritis tidak terjadi dilusi dari capping dan walls
4 Aman, khususnya apabila pengawasan dilakukan dengan memadai
5.    Apabila kondisi pasar tidak memungkinkan penambangan lanjutan, maka stope atau slice dapat diledakkan, sehingga badan bijih tetap berada dalam kondisi yang baik







6.    Setelah development selesai, maka dapat segera dilakukan penambangan terhadap bijih. Biaya development heading pada top slicing sekitar 20% dari biaya penambangannya

Kerugian

1.    Jika timber dan lagging tidak dapat dipasok dengan cukup dan harganya mahal, maka top slicing memerlukan biaya tinggi
2.    Lebih mahal dari metode lainnya yang dapat diterapkan untuk kondisi yang sama, walaupun metode lain tersebut mempunyai ekstraksi lebih rendah dan dilusi yang tinggi
3.    Tidak cocok untuk kondisi permukaan yang tidak diperkenankan terjadinya amblesan, walaupun demikian endapan tipis dan kondisi penambangan yang dalam (deep mining) masih dapat diterapkan
4.    Ventilasi sulit, khususnya apabila mat telah tebal dan untuk badan bijih sulfida yang apabila tersingkap pada udara terbuka akan menghasilkan panas dan gas. Untuk mengatasi ini cukup dengan memasang booster fan disetiap slice.
5.    Akumulasi  timber  sering  menimbulkan  bahaya  kebakaran,  walaupun demikian kebanyakan aplikasi top slicing pada kondisi bawah atau lembab dapat mencegah terjadinya kebakaran
6 Untuk mendapatkan output yang besar memerlukan working place yang
besar pula
7.    Periode development sebelum diperoleh produksi relatif lama. Laju output tidak dapat ditingkatkan dengan segera untuk memenuhi kebutuhan pasar
8.    Kegiatan  timbering  dan  peruntuhannya  memerlukan  (menyita)  waktu, sehingga mengurangi waktu untuk breaking dan mucking
9.    Pengangkuta timbe da lagging papan-papa da kabel-kabel memerlukan  biaya  yanmahal,  mengingat material  tersebut  diperlukan dalam jumlah yang banyak dan kadang-kadang harus dibawa dari tempat yang sangat jauh
10. Kadang-kadang proses runtuhnya capping dan timber mat di atas suatu slice tidak lancar dan membentuk rongga besar, sehingga kemungkinan dapat terjadi runtuhan massa batuan yang besar
11. Tidak dimungkinkan dilakukan sorting terhadap waste pada suatu stope atau tidak dimungkinkan meninggalkan barren rock di stope






Gambar 3.11 Top Slicing pada Deposit Masif




Gambar 3.12 Top Slicing pada Cebakan Tebal











Gambar 3.13 Top Slicing pada Cebakan Tipis

BACA BAB II

0 komentar:

Post a Comment