Makalah Nasionalisme Aceh ~ Knowledge Is Free

Makalah Nasionalisme Aceh

BAB I
PENDAHULUAN

            Nasionalisme pada dasarnya berwatak inklusi dan berwawasan kemanusiaan. Pada perkembangan selanjutnya ,watak nasionalisme indonesia yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh nasionalis mempengaruhi konsep pokok selanjutnya tentang negara bangsa,warga negara,dan dasar negara indonesia atau yang kemudian disebut dengan ideologi pancasila. Konsep nasionalisme yang dirumuskan oleh founding father dengan konsep-konsep lanjutan lainnya, seperti konsep negara bangsa yang lebih di konkretkan menjadi bentuk dan struktur negara indonesia yang berbentuk republik. [1]
Ikatan nasionalisme indonesia bukan diikat oleh kesamaan etnis melainkan sebuah   cita-cita bersama untuk membangun bangsa indonesia kedepan. Dengan kata lain nasionalisme indonesia ada yang menyebutnya sebagai civic nationalism, yaitu nasionalisme yang lebih didsarkan pada nilai-nilai dan cita-cita bersama untuk membela kemanusiaan dan membangun peradaban sebagaimana dalam cita-cita proklamasi dan pancasila. Adapun organisasi modern itu sebenarnya adalah dampak modernisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial sendiri. Kebangkitan nasional adalah dampak yang tidak disadari oleh pemerintah.
 Abad XX adalah abad nasionalisme, artinya sejak awal sampai dengan penutupan abad ini timbul kesadaran berbangsa. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bahwa ternyata kesadaran bangsa Indonesia sudah mengawali abad ini dan bahkan kesadaran ini masih diikuti oleh bangsa-bangsa yang menginginkan terciptanya bangsa (nasion) sendiri yang merdeka. Yang terakhir ini ternyata baru berlangsung menjelang penutupan abad XX. Jelas kiranya bahwa keinginan bersama untuk membebaskan diri dari dominasi etnik lain terjadi secara universal.
Kaitannya dengan Indonesia, bahwa sebagai bagian dari Indonesia mulai tumbuh di Aceh pada awal dasawarsa abad 20. Nasionalisme Indonesia mulai dikembangkan di Aceh pada awal dasawarsa abad 20 yaitu pada kurun waktu 1919 sampai 1922 oleh Syarikat Islam. Hasilnya adalah adanya pergeseran identitas keacehan atau keislaman menjuju sebuah identitas yang mengindonesia. Titik puncak kecenderungan atas nasionalisme Indonesia sebagai media pemersatu dalam perjuangan melawan Belanda terjadi pada 1945.

BAB II
PEMBAHASAN
                          
A.   Pengertian Nasionalisme.
 Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya[2].
Nasionalisme adalah sutau situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total didiabdikan kepada negara dan bangsa atas nama sebuah bangsanya. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam identitas politik atau kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut negara (nation), dengan demikian bangsa merupakan suatubadan (wadah) yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti: ras, etnis, agama, bahasa,dan budaya. Dari unsur persamaan tersebut semuanya dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama untuk menentukan tujuan bersama[3].
 Sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang mendambakan kepentingan bersama yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka terdiri dari masyarakat yang majemuk. Bangsa mempunyai pengertian totalitas yang tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama. Diantara mereka tercipta hubungan sosial yang harmonis dan sepadan atas dasar kekeluargaan. Kepentingan semua kelompok diinstutionalisasikan dalam berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan. Upaya penggalangan kebersamaan ini sering kali bertujuan menghapus superioritas kolonial terhadap suatu bangsa yang telah menimbulkan berbagai penderitaan selama kurun waktu yang cukup lama. Ada juga yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah pemikiran untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan Negara dengan menghargai dan menjiwai baik itu budaya, adat istiadat maupun sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia yang telah merdeka ini.
Dalam  konteks ini, kata kunci dalam nasionalisme adalah supreme loyality terhadap kelompok bangsa. Kesetiaan ini muncul karena adanya kesadaran akan identitas kolektif yang berbeda dengan yang lain. Pada kebanyakan kasus, hal itu terjadi karena kesamaan keturunan, bahasa atau kebudayaan. Akan tetapi , ini semua bukanlah unsur yang subtansial serba yang paling penting dalam nasionalisme adalah adanya “kemauan untuk bersatu”.
 Oleh karena itu, “bangsa” merupakan konsep yang selalu berubah, tidak statis, dan juga tidak given, sejalan dengan dinamika kekuatan-kekuatan yang melahirkannya.
Nasionalisme tidak selamanya tumbuh dalam masyarakat multi ras, bahasa, budaya, dan bahkan multi agama. Amerika dan Singapura misalnya, adalah bangsa yang multi ras; Switzerland adalah bangsa dengan multi bahasa; dan Indonesia, yang sangat fenomenal, adalah bangsa yang yang merupakan integrasi dari berbagai suku yang mempunyai aneka bahasa, budaya, dan juga agama[4].

B.          Makna Nasionalisme
Makna Nasionalisme secara politis merupakan kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau menghilangkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:
·         Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
·            Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.



C.       Perkembangan  Nasionalisme di Aceh.
Kegemilangan Aceh di masa Negara Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam berdaulat Nasionalisme Aceh telah membentuk sebuah arah sejarah. Itu dimunculkan oleh Hasan Tiro dengan bukunya ‘The Price of Freedom’, ‘Aceh Bak Mata Donya’ dan lain-lain. Namun sebuah buku tidak akan berpengaruh jika tidak ada yang membaca atau menindaklanjuti dari isinya.
Aceh menuntut merdeka dari Republik Indonesia sejak pernyataan Aceh Sumatera Merdeka oleh Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 di Gunong Alimon Aceh sampai penandantanganan kesepakatan (MoU) di Helsinki Finlandia pada 15 Agustus 2005 karena adanya nasionalisme Aceh. Negara Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam tidak mengembangkan nasionalisme Aceh, tetapi sebuah persaudaraan Islam antara bangsa-bangsa Melayu. Bahkan kata Aceh tidak pernah tedengar di masa Kesultanan Samudera Pasai. Kata Aceh baru disiarkan ketika Aceh Darussalam. Itu bukan artinya Aceh tidak ada sebelum itu, tetapi ini diartikan bahwa sebuah kumpulan manusia yang kini disebut Aceh, di masa dahulunya bukan dinamakan Aceh[5].
Di masa Kesultanan Samudera Pasai, bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Jawi (Melayu Pasai), bukan bahasa Aceh. Begitupun di masa Kesultanan Aceh Darussalam, semuanya memakai bahasa Jawi. Menurut beberapa asal kabar, itu terjadi di masa Belanda. Ketika itu, orang Aceh menulis dalam bahasa Aceh supaya Belanda tidak mengertinya karena bangsa dari Eropa Utara itu hanya menyiapkan juru bahasa Jawi. Makanya muncullah Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Aceh.
 Dalam sejarahnya, nasionalisme Indonesia melalui beberapa tahap perkembangan. Tahap pertama ditandai dengan tumbuhnya perasaan kebangsaan dan persamaan nasib, Tahap kedua adalah kelanjutan dari semangat revolusioner pada masa perjuangan. Tahap ketiga adalah nasionalisme persatuan dan kesatuan. Tahap keempat adalah nasionalisme kosmopolitan yaitu nasionalisme yang disemangati oleh multikulturalisme.
Untuk bisa meningkatkan rasa nasionalisme bagi pemuda Aceh, dibutuhkan beberapa persyaratan, antara lain dimensi kemanusian, keadilan sosial dan hadirnya keluasan dalam demokrasi lokal. pada beberapa tahun lalu, Aceh pernah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, padahal kontribusi daerah ini sangat besar terhadap Republik Indonesia.
D.          Kondisi masyarakat Aceh terhadap nasionalisme.
Kehadiran nasionalisme di Aceh, telah menempatkan bahasa Indonesia sebagaimana yang harus dihindari di Aceh di masa sebelum MoU Helsinki. Itu sebuah kesalahan besar. Karena akan ada bahasa Aceh sebagai bahasa induk, Aceh telah tertipu pada kenyataan bahwa merekalah yang mengajarkan bahasa Jawi yang sudah tersusun rapi dalam tulisan kepada penduduk di Pulau Sumatera, Jawa, Borneo (Kalimantan), Maluku, Mindanao (Filipina), dan semenanjung Malaka (Pattani [Thailaind], Pahang, Kelantan (Malaysia), dan lainnya.
Ada beberapa asal kabar menerangkan bahwa bahasa Aceh bahkan lebih tua daripada bahasa Jawi, tetapi lebih rumit sehingga itu hanya menjadi bahasa khusus yang dipakai di antara orang Aceh sendiri. Sementara di kegiatan-kegiatan resmi, yang dipakai adalah bahasa Jawi, artinya, sejak ratusan tahun lalu, anak Aceh diajarkan dua bahasa sekaligus.

Sementara, bahasa Indonesia merupakan bahasa Jawi yang telah diubah sedemikian rupa setelah Republik Indonesia ada. Untuk memutuskan hubungan dengan kenyataan sejarah bahwa bahasa tersebut dikembangkan pertama kali di masa Samudera Pasai, maka diciptakan sebuah cara supaya ada yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Kemudian, ke dalam bahasa yang telah diubah itu dimasukkan bahasa Inggris, Jawa, dan sebagainya.
Untuk bisa meningkatkan rasa nasionalisme bagi pemuda Aceh, dibutuhkan beberapa persyaratan, antara lain dimensi kemanusian, keadilan sosial dan hadirnya keluasan dalam demokrasi lokal. Pada beberapa tahun lalu, Aceh pernah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, padahal kontribusi daerah ini sangat besar terhadap Republik Indonesia.  Sejak dari merebut kemerdekaan, membeli pesawat udara untuk perjuangan Indonesia hingga hasil bumi Aceh yang dikeruk oleh pusat. Namun, yang diterima Aceh adalah ketidakadilan dan hadirnya operasi militer ke Aceh.
Hal itulah yang pada akhirnya menimbulkan rasa sakit hati serta menilai bahwa pemerintah pusat bertindak tidak adil terhadap Aceh yang pada akhirnya melahirkan sikap dan rasa antipati kepada pemerintah, sehingga untuk bisa membangkitkan kembali rasa nasionalisme tersebut, susah dilakukan jika tak ada ketulusan dan keseriusan pemerintah terhadap Aceh, katanya. menilai rasa nasionalisme generasi muda Aceh secara formal mulai mengalami masa penurunan. Itu karena rasa luka dan trauma masa lalu yang dilakukan pemerintah pusat terhadap daerah itu.
BAB III
PENUTUPAN
A.          Kesimpulan
Nasionalisme adalah sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang mendambakan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka terdiri dari masyarakat yang majemuk.  
 Nasionalisme secara politis merupakan kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau menghilangkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.
Kehadiran nasionalisme di Aceh dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi bentuk yang lebih kompleks dan rumit. Dimulai dari  tumbuhnya kesadaran untuk menentukann nasib sendiri di kalangan bangsa-bangsa yang tertindas di dunia. Lahirnya semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan masa depannya sendiri. Dalam situasi perjuangan perebutan kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai dasar pembenaran rasional dari tuntutan terhadap penentu nasib sendiri yang dapat mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pembenaran tersebut, selanjutnya mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme. Dari sinilah kemudian lahir konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation), negara (state),dan gabungan keduanya yang menjadi konsep negara-bangsa (nation-state) sebagai komponen-komponen yang membentuk identitas nasional atau kebangsaan.









DAFTAR PUSTAKA

Azra,Azumardi. Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani hal 32.
Bambang suteng.dkk,pendidikan kewarganegaraanuntuk SMA X.(jakarta:erlangga.2006).
Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayana, Cerdas,Kritis,dan Aktif Berwarganegara, Jakarta: Erlangga,2010, hlm. 38-40.
http://www.peradabandunia.com/2013/12/nasionalisme-aceh.html.




[1] Prof. Dr. Azumardi Azra, MA. Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani hal 32
[2] Bambang suteng.dkk,pendidikan kewarganegaraanuntuk SMA X.(jakarta:erlangga.2006)
[3] http://blog.ub.ac.id/fitria37/2013/01/02.makalah-pendidikan-kewarganegaraan-identitas-nasional.
[4]. Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayana, Cerdas,Kritis,dan Aktif Berwarganegara, Jakarta: Erlangga,2010, hlm. 38-40.



0 komentar:

Post a Comment