September 2015 ~ Knowledge Is Free

Makalah Ekonomi Islam


            Alhamdullillah puji syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat berupa kesehatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang bertema Perbankan Syariah dengan lancar dan tepat waktu.
            Dalam makalah ini penulis membahas beberapa poin penting tentang perenan, tujuan, dan hal yang melatar belakangi kurangnya peminat bank syariah di Indonesia.
            Diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan umum yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
            Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah membimbing proses pembuatan makalah sampai saat ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada anggota kelompok yang telah meluangkan pikiran, materi, dan tenaga untuk menyelesaikan makalah ini.
           






Malang, 06 Oktober 2014


Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………   a
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..    b
PENDAHULUAN……………………………….……………………………..      3
A.    Latar Belakang………………………………………………………      3
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………...      3
C.     Tujuan.……………………………………………………………….     3

PEMBAHASAN………………………………………………………………        5
A.    Peranan Utama Bank Syariah …………………………………..…        5
B.     Tujuan Didirikannya Bank Syariah ………………………………..…    6
C.     Bank Syariah Masih Sedikit Peminat…………………………..……     7
PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………………….          12
B.     Saran ……………………………………………………………..          12
DAFTAR PUSTAKA…………………………………….








PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

      Seiring berkembangnya zaman masalah keuangan pun menjadi no.1. Bank demi bank pun mucul dengan berbagai fasilitas terjamin dan persyaratan tertentu. Kebanyakan bank menggunakan sistem bunga tabungan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi banknya sendiri.
Pada saat ini Islam telah berhasil menciptakan sebuah bank dengan menggunakan sistem bunga 0% atau tidak ada bunga sama sekali. Hal ini dikarenakan permasalahan tertentu, karena Islam yang mengharamkan riba atau dapat juga dikatakan memakan yang bukan haknya atau bunga bank tersebut.
Oleh karena itu, dibentuklah bank yang berbasis keislaman yang dinamakan bank syariah. Tujuannya untuk menjaga uang masyarakat dan tidak terjadinya riba, meskipun bank syariah telah beredar di seluruh daerah dan memakai sistem 0%, tetapi masyarakat tetap juga memilih bank lain. Hal ini dikarenakan masyarakat ingin memperoleh keuntungan dari uang yang telah mereka setorkan ke pihak bank.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan sebagai berikut.
1.      Apa peranan utama bank syariah?
2.      Apa tujuan didirikannya bank syariah?
3.      Mengapa bank syariah masih sedikit peminatnya?

C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, tujuan menyusun makalah ini sebagai berikut.
1.      Agar pembaca dapat mengetahui peranan utama bank syariah.
2.      Agar pembaca dapat mengetahui tujuan didirikannya bank syariah.
3.      Agar pembaca dapat mengetahui mengapa bank syariah masih sedikit peminatnya.

PEMBAHASAN


Peran Bank Islam

Berdasarkan filosofis serta tujuan bank Islam maka dirumuskan fungsi dan peran bank Islam yang diantaranya tercantum dalam pembukaan standar akuntasi yang dikeluarkan oleh AAOIFFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution). Fungsi dan peran tersebut yaitu:
a. Manajer investasi, bank Islam dapat mengelola investasi dana nasabah 
b. Investor, bank Islam dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya. 
c. Penyedia jasa keuangan dan laulintas pembayaran, bank Islam dapat melakukan kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya institusi perbankan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 
d. Pelaksana kegiatan sosial. Sebagai suatu ciri yang melekat pada entitas keuangan Islam, bank Islam juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.
Dari fungsi dan peran tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara bank Islam dengan nasabahnya baik sebagai dari investor maupun pelaksana dari investasi merupakan hubungan kemitraan, tidak seperti hubungan pada bank konvensional yangb bersifat debitur-kreditur.[1]



Tujuan Bank Islam Syariah

Perbankan syariah sebagaimana dijelaskan dalam pasal 3 UU Perbankan syariah, bertujuan “Menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meingkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat”. Dalam mencapai tujuan menunjang pelaksannaan pembangunan nasional, perbankan syariah tetap berpegang pada prinsip syariah secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten (istiqamah)” (Pasal 3 UU Perbankan syariah dan Penjelasannya).

Bank syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Dengan demikian, penghindaran bunga yang dianggap riba merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dunia Islam dewasa ini. Suatu hal yang sangat menggembirakan bahwa belakangan ini para ekonom muslim telah mencurahkan perhatian besar, guna menemukan cara untuk menggantikan sistem bunga dalam transaksi perbankan dan membangun model teori ekonomi yang bebas dan pengujiannya terhadap pertumbuhan ekonomi, alokasi dan distribusi pendapatan. Oleh karena itu, maka mekanisme perbankan bebas bunga yang biasa disebut dengan bank syariah didirikan. Tujuan perbankan syariah didirikan dikarenakan pengambilan riba dalam transaksi keuangan maupun non keuangan (QS. Al-Baqarah 2 : 275). Dalam sistem bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan pendapatan bunga (Zaenul Arifin, 2002: 39-40).

Setelah di dalam perjalanan sejarah bank- bank yang telah ada (bank konvesional) dirasakan mengalami kegagalan menjalankan fungsi utamanya menjembatani antara pemilik modal atau kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana, maka dibentuklah bank – bank Islam dengan tujuan – tujuan sebagai berikut :

1. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara islami khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari praktek riba atau jenis perdagangan yang mengandung unsur gharar

2. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap Bank non–Islam (konvesional) yang menyebabkan ummat Islam berada di bawah  kekuasaan bank..

3. Menjalankan bisnis dan aktivitas perdagangan yang berbasis pada perolehan keuntungan yang sah menurut islam

4. Menghindari bunga bank uang yang dilaksanakan bank konvesional

5. Mendidik dan membimbing masyarakat untuk berpikir secara ekonomis, berperilaku bisnis dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.

6. Menghindari Al Iktinaz yaitu menahan uang (dana) dan membiarkannya menganggur dan tidak berputar

7. Untuk membantu menanggulangi (mengentaskan) masalah kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari negara–negara yang sedang berkembang.

8. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi.

9. Menjaga kestabilan ekonomi/ moneter pemerintah

10. Berkembangnya lembaga bank dan sistem perbankan yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan akan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga menggalakkan usaha–usaha ekonomi masyarakat banyak dengan antara lain memperluas jaringan lembaga lembaga keuangan perbankan.

11. Berusaha membuktikan bahwa konsep perbankan Islam menurut syariah Islam dapat beroperasi, tumbuh dan berkembang melebihi bank-bank dengan sistem lain.[2]

Mengapa Bank Syariah Sedikit Peminat

Bank Syariah belum imbangi kovensional. Bank syariah didasarkan pada Al – Qur’an dan Hadist sebagai pedoman hidup umat Islam. Filosofi dan dasar Perbankan Syariah meliputi 3 aspek, yaitu produktif, adil, dan memiliki akhlak atau moralitas usaha. Produktif berarti harta yang dipergunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan. Karenanya harta juga tidak boleh menganggur dan diperkenankan memperoleh laba. Sedangkan adil berarti dilarangnya riba dan diharuskan melakukan pembagian hasil dan risiko.
“Meskipun masih kecil, namun pertumbuhan bank syariah cukup baik. Kita sangat optimis syariah akan terus berkembang di tanah air. Karena, Perbankan syariah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi perma­sala­han krisis ekonomi akibat inflasi dan suku bunga yang seringkali naik turun,” kata Deputi Gubernur Bank Indone­sia, Halim Alamsyah dalam diskusi terbatas dan silatur­rahmi dengan Pimipinan Wilayah Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muham­madiyah, Jalan Sawahan No.62 Padang, Sabtu (9/6).
Perbedaan usaha bank syariah dengan bank konven­sional yakni pembagian ke­untungan. bank konvensional sepenuhnya menerapkan sis­tem bunga atau riba. Hal ini karena kontrak yang dilaku­kan bank sebagai mediator penabung dengan peminjam dilakukan dengan penetapan bunga. Selanjutnya, keun­tungan bank adalah selisih bunga antara bunga tabungan dengan bunga pinjaman. Jadi para penabung mendapatkan keuntungan dari bunga tanpa keterlibatan langsung dalam usaha.
Sistem penarikan keun­tungan oleh bank konvensional itu tak berlaku di bank sya­riah. Sistem syariah yakni masyarakat yang disimpan di bank disalurkan kepada para peminjam untuk mendapatkan keuntungan. Hasil keuntungan akan dibagi antara pihak penabung dan pihak bank. Sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Namun bagi hasil yang dimaksud adalah bukan membagi keuntungan atau kerugian atas pemanfaatan dana tersebut. Keuntungan dan kerugian dana nasabah yang dioperasikan sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab dari bank. Penabung tak memperoleh imbalan dan tidak bertanggung jawab jika terjadi kerugian. Hal ini bukan berarti penabung gigit jari, tapi mereka mendapat bonus sesuai kesepakatan.
Halim menambahkan, dari perbandingan itu terlihat bahwa dengan sistem riba pada bank konvensional, penabung akan menerima bunga sebesar ketentuan bank. Namun pembagian bunga tak terkait dengan pendapatan bank itu sendiri, sehingga berapapun pendapatan bank, nasabah hanya mendapatkan keuntungan sebesar bunga yang dijanjikan saja. Semen­tara bank syariah, nasabah mendapatkan keun­tungan bagi hasil yang jumlahnya tergan­tung pen­dapa­tan bank. Jika pendapatan Bank Syariah naik maka makin besar pula jumlah bagi hasil yang dida­pat nasabah. Ketentuan ini juga berlaku jika bank men­da­­patkan keuntungan sedikit.[3]



















PENUTUP
Simpulan
      Uraian dari jawaban semua rumusan masalah yaitu peran bank syariah dalam masyarakat adalah hubungan antara bank Islam dengan nasabahnya baik sebagai dari investor maupun pelaksana dari investasi merupakan hubungan kemitraan, tidak seperti hubungan pada bank konvensional yangb bersifat debitur-kreditur.
      Sedangkan tujuan didirikannya bank syariah yakni menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meingkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat”. Dalam mencapai tujuan menunjang pelaksannaan pembangunan nasional, perbankan syariah tetap berpegang pada prinsip syariah secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten (istiqamah), (Pasal 3 UU Perbankan syariah dan Penjelasannya).
      Alasan mengapa bank syariah masih sedikit peminatnya yakni bank syariah belum imbangi kovensional, khususnya dalam bidang bagi hasil atau yang sering disebut bunga.
Saran
1.      Untuk Masyarakat
·         Memahami sistem yang sebenarnya dalam bank syariah dan membandingkan dengan benar antara bank syarian dengan bank konvensional
·         Tidak melihat kualitas bank dari segi sedikit peminatnya maupun banyak peminatnya, tetapi dari system bank itu sendiri
2.      Untuk Guru
·         Menghimbau murid didikannya untuk tidak salah terjun dalam mengambil keputusan mengenai riba maupun bunga yang sering terjadi kesalahpahaman saat ini.
·         Memberi pengetahuan lebih dan jelas tentang perbedaan dan persamaan bank syariah dengan konvensional.
                                                                                              

DAFTAR PUSTAKA


Sumitro Warkum. Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-lembaga terkait BMI &Takaful di Indonesia.Jakarta:  Raja Grafindo Persada. 2002
Muhammad. Managemen Bank Syari’ah.Jakarta: UPP AMP YKPN. 2002



















[1] Warkum, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-lembaga terkait BMI &Takaful di Indonesia, (Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 2002), hal.17
[2] Muhammad, Managemen Bank Syari’ah, (Jakarta: UPP AMP YKPN, 2002), hal.13

Makalah Jaringan ikat pada hewan

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Struktur hewan adalah kumpulan dari berbagai macam jaringan dan melaksanakan suatu tugas tertentu dan akan membentuk organ. Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan. Jaringan tersusun oleh sel-sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan tersusun atas beberapa sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan meraka mempunyai fungsi yang spesifik yang berbeda dengan jaringan lain.
Perubahan sel menjadi jaringan terjadi melalui proses spesialisasi. Jaringan penyusun tubuh hewan ada empat macam yaitu jaringan epitelium, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Salah satu jaringan yang akan dibahas adalah jaringan ikat. Jaringan ikat merupakan jaringan yang berfungsi untuk mengikat sel-sel sehingga membentuk suatu jaringan dan mengikat suatu jaringan dengan jaringan lainnya, menyokong dan melindungi bagianbagian tubuh, mengisi rongga-rongga yang kosong, menyimpan lemak (sumber energi), dan untuk transposrtasi.

1.2  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan
pengertian, fungsi, penyusun, dan macam-macam dari jaringan ikat pada hewan.

1.3 Manfaat
      Sedangkan kegunaan dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang struktur hewan terutama pada jaringan ikat serta sebagai referensi dan sumber informasi untuk pembuatan makalah selanjutnya.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian dan Fungsi Jaringan Ikat
       Jaringan ikat berkembang dari mesenkim. Mesenkim berasal dari mesoderm, yaitu lapisan tengah embrio. Jaringan ikat sering disebut juga jaringan penyokong atau penyambung. Letak-letak sel jaringan ikat tidak berimpitan rapat tetapi tersebar. Jaringan ikat tidak terdapat pada permukaan luar tubuh. Jaringan ikat mengandung banyak pembuluh darah, kecuali pada tulang rawan (D.A. Pratiwi, 2006).
       Ciri khusus dari jaringan ikat adalah memiliki komponen intraseluler yang disebut matriks. Matriks disekresikan oleh sel-sel jaringan ikat.dengan demikian secara garis besar, jaringan ikat terdiri atas sel-sel jaringan dan matriks. Matriks tersususn dari serat-serat dan bahan dasar. Berdasarkan bentuk dan reaksi kimianya, serat pada matriks dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Serat kolagen; berupa berkas beranekaragam yang berwarna putih. Serat kolagen mempunyai daya regang yang tinngi dengan elastisitas yang rendah. Kolagen terdapat pada tendon, yaitu jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang.
2.      Serat elastin; berwarna kuning dan lebih tipis daripada serat kolagen. Serat elastin mempunyai elastisitas tinggi. Semakin bertambah usia seseorang, daya elastisitas serat elastin semakin menurun. Serrat elastin terdapat dalam pembuluh darah dan ligament.
3.      Serat retikuler; hampir sama dengan serat kolagen, akan tetapi berukuran lebih kecil. Serat retikuler berperan penting dalam menghubungkan jaringan ikat dengan jaringan lain, khususnya membrane antara jaringan epitelium dan jaringan ikat (D.A. Pratiwi, 2006).

Description: E:\best words\screenshot-53.jpg              Description: E:\best words\Jaringan-Ikat-Retikuler-300x225.jpg
 2.1 Gambar serat kolagen dan serat elastin          2.2 Gambar serat retikuler
       Bahan dasar penyusun matriks adalah mukopolisakarida sulfat dan asam hialuronat. Bentuk bahan dasar ini ialah homogen setengah cair. Jika kandungan asam hialuronat tinggi matriks bersifat lentur. Sebaliknya jika kandungan mukopolisakarida sulfatnya tinggi, matriks bersifat kaku. Bahan dasar ini jika terdapat dalam sendi bersifat kental, tetapi jika terdapat dalam tulang punggung bersifat padat (D.A. Pratiwi, 2006).
       Perimbangan antara sel dan matriks atau bahan antar sel menunjukkan variasi cukup jelas, tergantung dari macam jaringan ikat tersebut. Dalam tubuh hewan terdapat berbagai bentuk jaringan ikat, bahkan ada yang mengalami modifikasi sesuai fungsinya. Fungsi jaringan ikat adalah :
1.      Sebagai penunjang tubuh dalam arti luas, misalnya kerangka tubuh
2.      Sebagai penunjang serta pengantar pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf termasuk organ tubuh vital, misalnya otak, ginjal, hati, paru-paru dan sebagainya.
3.      Merupakan media antara pembuluh darah kapiler dengan sel-sel tubuh dalam   
            mengantarkan zat makanan, zat asam, dan mengambil sisa metabolisme.
4.      Dapat berfungsi sebagai penimbun lemak (sel lemak), pigmen (sel pigmen),
            penghasil benda darah (sel hemopoetik) (Hernawati, 2008).

2.2 Sel-Sel Jaringan Ikat
      Ada berbagai jenis sel yang tertanam dalam matriks dan memiliki berbagai fungsi yaitu, fibroblas, histiosit atau makrofag, sel mast, sel pigment. Di samping itu masih ada beberapa macam sel di tempat-tempat khusus, misalnya limfosit dan leukosit, berasal dari darah, keluar dari pembuluh darah kapiler melalui proses diapedesis dengan tujuan tertentu. Sel lemak, terdapat pada jaringan lemak, sel pigmen terdapat pada jaringan pigmen.
1.      Fibrolas
            Sering disebut fibrosit atau desmosit. Fibroblas merupakan sel-sel jaringan ikat tetap, jumlahnya paling banyak dan mudah dikenali pada tiap bentuk jaringan ikat. Inti lonjong mengandung sedikit khromatin. Pada sediaan rutin inti mengecil dan runcing, sitoplasma cerah dan homogen dan membran plasma tidak jelas. Fungsi fibroblast yaitu membentuk serabut dan bahan dasar (matriks). Fibroblast dikenal mampu membentuk serabut kolagen. Fibrolast juga berfungsi mensekresikan protein, khususnya yang berbentuk serat.
                       
1.3  Gambar Fibrolas

2.      Histiosit (Makrofag)
            Bentuk selnya tidak teratur, penjuluran sel pendek dan tumpul, sedangkan intinya lebih kecil dan bulat dari fibroblast. Histiosit dalam keadaan istirahat sulit dibedakan dengan fibroblast. Histiosit tergolong sistem makrofag, sering pula disebut keluarga RES (Resticulo Endothelial System) yang berfungsi memfagositosis benda asing (kuman, pecahan sel) dalam tubuh. Fungsi histiosit membersihkan benda asing dari luar atau dalam tubuh sendiri, misalnya sisa sel yang sudah mati.
                        Description: 14 Gambar 2.2 Makrofag
3.      Sel Plasma
            Sel plasma jarang terdapat pada jaringan ikat biasa, sering terdapat pada jaringan ikat selaput lendir saluran pencernaan. Pada jaringan retikular pembentuk benda darah, pada tempat perdangan mudah ditemukan. Bentuk selnya lonjong tidak teratur, lebih kecil dari histiosit, inti terletak eksentrik dengan kromatin jelas membentuk jalinan seperti roda. Sitoplasma bersifat basofil kuat, mirip limfosit, tetapi di daerah di mana banyak sitoplasma dekat inti, lemah mengambil warna sehingga tampak cerah. Daerah ini merupakan lokasi dari aparatus Golgi yang memang besar dan aktif seperti pada kelenjar eksokrin. Sepintas lalu sel plasma agak mirip dengan limfosit, karena ada anggapan bahwa proplasmasit (prekursor sel plasma) berkembang dari limfosit medium tipe-B. Fungsi sel plasma adalah penghasil utama zat kebal (antibodi) yang bersirkulasi berkat penelitian dengan teknik flouresent antibodi.
                                    Description: ARTERIOLE + JAR IKAT KENDOR
                                    2.3 Gambar Sel plasma

4.      Sel Mast (Sel Tiang)
            Sel mast lazimnya terlihat pada jaringan ikat longgar, khususnya di sekitar pembuluh darah. Bentuk selnya besar, lonjong dengan inti agak pucat. Dalam sitoplasma terdapat banyak butir yang lazimnya bersifat basofil. Butir ini mudah larut dalam air seperti butir pada leukosit basofil, karenanya sulit dilihat pada sediaan rutin. Fungsi sel mast menghasilkan heparin (antikoagulan), histamin, dan serotonin. Histamin menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan meningkatkan permeabelitas pembuluh darah kapiler dan vena kecil pada kasus alergi.
                                    Description: ARTEROLE + MAST CELL
                                     2.4 Gambar Sel mast (sel tiang)

5.      Sel Lemak
            Sel lemak terdapat pada jaringan lemak, yang terspesialisasi khusus untuk menyimpan lemak, bisa bersifat soliter atau mengelompok. Jika suatu jaringan ikat banyak mengandung sel lemak, maka jaringan ikat tersebut disebut jaringan adiposa.
                                    Description: E:\best words\jaringan lemak , adiposa.jpg
                                     2.5 Gambar Sel lemak

6.      Sel Pigmen
Sel pigmen lazim disebut „melanosit dan pigmen yang berwarna coklat hitam disebut melanin. Melanosit banyak terdapat jaringan ikat berpigmen pada lapis khoroidea mata, rambut, kulit, dan sebagainya (Hernawati, 2008).

2.3 Jenis-Jenis Jaringan Ikat

1.    Jaringan Ikat Longgar
     Jaringan ikat longgar luas dalam tubuh hewan, strukturnya dapat sedikit berbeda sesuai dengan lokasi serta namanya. Antara subkutan, endomisium, dan jaringan interstitial, tidak hanya nama serta lokasinya yang berbeda, strukturnya pun ada bedanya. Bangun histologi selnya banyak dan bermacam-macam. Serabutnya sedikit dan bermacam-macam. Matrik atau bahan dasarnya cukup banyak.
    Pemberian nama jaringan ikat longgar tergantung pada tempatnya serta fungsinya, misalnya subkutan : terdapat di bawah kulit dan menghubungkan kulit dengan organ tubuh dibawahnya. Merupakan tempat penimbunan sel-sel lemak. Endomisium : jaringan ikat longgar yang menghubungkan serabut otot satu dengan lain sambil membawa pembuluh darah dan syaraf. Jaringan interstitial : jaringan ikat longgar yang terdapat diantara ujung kelenjar, merupakan media antara pembuluh darah dan sel-sel kelenjar yang aktif membuat sekreta, misalnya kelenjar ambing (Hernawati, 2008).
           
    Description: C:\Users\satellitel640\Documents\jaringan-ikat.jpg
            Gambar 2.6 Jaringan ikat longgar

2.    Jaringan Ikat Padat
     Jaringan ikat padat terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut
a.     Jaringan Ikat Padat Teratur
      Jaringan ikat padat teratur dikarenakan susunan serabutnya. Bila serabutnya padat, maka sel-selnya relatif sedikit serta macamnya terbatas. Matriks pun relatif sedikit. Dengan melihat macam serabutnya, dibagi sebagai berikut :
- Mayoritas serabut kolagen : tendon, ligamentum, fasia, aponeurosis.
- Mayoritas serabut elastin : ligamentum nukhe, tunika flava
Tendon atau Urat
Tendon hampir seluruhnya dari serabut kolagen, tersusun paralel dan membentuk berkas yang cukup pekat. Di antara serabut kolagen yang membentuk berkas terdapat fibroblast yang sering disebut “sel tendon” Di antara berkas satu dengan yang lain terdapat jaringan ikat longgar yang membawa pembuluh darah dan syaraf. Jaringan tendon yang bersifat makroskopis sebenarnya merupakan gabungan sejumlah berkas serabut kolagen. Fungsi tendon merupakan alat untuk menghubungkan antara otot pada bungkul tulang, misalnya pada otot kaki yang mempunyai tendon yang cukup panjang.
Ligamentum
Secara struktural mirip dengan tendon, mayoritas terdiri atas serabut-serabut kolagen yang tersusun padat teratur sejajar. Fungsi sebagai pengikat persendian, menyebrang dari bungkul satu dengan bungkul tulang yang lain.
Aponeurosis
Aponeurosis mirip dengan tendon dan ligamentum, hanya saja bentuknya lebar dan agak tipis. Susunan serabut kolagen yang sejajar dan padat, dapat berlapis-lapis dengan arah berbeda. Aponeurosis kadang-kadang tampak membalut otot, terletak di antara otot, bisa tidak berhubungan dengan otot.
Fasia
Secara struktural fasia dan aponeurosis mirip, sehingga kedua istilah tersebut sering dikacaukan pengertiannya. Sebenarnya istilah fasia lebih bersifat umum, bisa tebal dan bisa tipis tergantung pada tempat serta fungsinya. Ada fasia yang hanya terdiri dari dua lapis sehingga mudah dipelajari secara miksroskopik, tetapi ada pula yang tebal dan kuat. Semakin banyak lapis yang membentuk anyaman makin kuat fasia tersebut. Fasia superfisialis terletak di bawah subkutan, langsung membalut otot, dimana sel-selnya akan menyusup ke dalam fasia tersebut. Fasia profunda, letaknya lebih dalam, terdiri atas jaringan ikat padat teratur membentuk anyaman dengan arah serabut berbeda. Di bagian dalam dapat bertaut pada tulang, ligamen, dan tendon. Fasia sering mebentuk daun menyusup di antara otot membentuk septa intermuskularis (Hernawati, 2008).

b.  Jaringan Ikat Padat Tidak Teratur
     Struktur serabut kolagen padat dan susunannya tidak teratur. Di samping mayoritas adalah serabu kolagen, terdapat pula serabut elastik sedikit dan bahkan otot polos, misalnya tunika albugenea testis kuda, kapsula dan trabukula limpa, jelas memiliki otot polos. Misalnya jaringan ikat padat tidak teratur antara lain korium (kulit), tunika albugenia, kapsula, trabukula, septa dan sebagainya (Hernawati, 2008)

             
Gambar 2.7 jaringan ikat padat                        Gambar 2.8 jaringan ikat padat tak teratur
                    teratur

3.    Jaringan Retikular
     Jaringan retikular terdiri atas sel-sel retikular yang membuat jalinan, dan serabut retikular yang menempel pada tubuh serta penjuluran sel yang saling berhubungan. Inti sel retikular besar dan pucat, sitoplasma cerah tanpa adanya vakuola didalamnya. Dilihat sari segi lokasi serta fungsinya, sel-sel retikular dibagi sebagai berikut:
- Di tempat tertentu masih memiliki potensi embrionik, dengan pengertian dapat  
   menumbuhkan beberapa macam benda darah, misalnya pada folikel getah bening, 
   pulpa putih limpa, sumsum tulang merah.
- Sel retikular pada kelenjar getah bening dan lain tempat memiliki sifat fagositosis   
   terhadap benda asing.
- Memiliki sifat fibroblastik, karena mampu menghasilkan serabut retikular
- Jaringan retikular terdapat pada organ hemopoietik (pembentuk benda darah), pada
   sumsum tulang disebut jaringan mieloid, sedangkan pada kelenjar getah bening disebut  jaringan limfoid (Hernawati, 2008).
    Description: E:\best words\index3.jpg
         2.9 Jaringan retikuler


4.    Jaringan Lemak
     Suatu bentuk jaringan ikat di mana mayoritas sel-selnya mampu menimbun lemak dalam sitoplasma. Serabut yang terdapat di antaranya adalah serabut kolagen, serabut elatin, dan serabut retikular, di samping pembuluh darah yang cukup banyak. Sel lemak berkembang dari mensenkim yang berdiferensiasi menjadi „steatoblast‟ yang nantinya menjadi sel lemak. Butir lemak mula-mula tersebar merata dalam sitoplasma. Lama-lama butir tersebut bergabung menjadi butir besar dan mengisi sebagian besar sitoplasma (80-90%).
     Secara kimiawi lemak tubuh adalah ester dari gliserol dan asam lemak (asam palmitin, stearin, dan olein). Lemak tidak larut dalam air atau alkohol dingin, tetapi larut dalam silol, khloroform, eter, bensol. Pada pewarnaan sehari-hari (H&E) lemak larut dalam silol, sehingga tampak sel-sel kosong, tinggal inti dengan sitoplasma yang tipis di tepi (Hernawati,  2008).       
                                   Description: Jaringan Lemak; H
                                    Gambar 2.10 Jaringan lemak
5.    Jaringan Pigmen
     Jaringan pigmen atau lengkapnya jaringan ikat berpigmen, memiliki sel-sel khusus yang mampu mensintesa serta menimbun pigmen. Selnya disebut „melanosit‟, sedangkan pigmennya „melanin‟ dan warnanya coklat hitam. Bangun hisologis sel-selnya memiliki penjuluran dan dalam sitoplasma terdapat butir-butir melanin, berbentuk pipih atau bulat dengan diameter 0,2-0,5 μm.
    Pada sedian rutin tanpa pewarnaan melanosit dapat dipelajari dengan jelas, butir melanin jelas hanya inti tampak kosong. Melanosit terdapat pada lapisan khoroida dan iris mata, stratum germinativum dan korium kulit hitam (Melanesia, Afrika), rambut serta bulu yang berwarna hitam (Hernawati, 2008)

 Description: jaringan ikat 33
Gambar 2.11 Jaringan pigmen

6.    Jaringan Darah
Jaringan darah merupakan jaringan penyokong khusus, karena berupa cairan. Ada yang menggolongkan jaringan ini sebagai jaringan ikat atau jaringan penunujang. Darah tersususn atas sel-sel darah dan matriks (plasma darah). Jaringan darah terdiri atas cairan darah dan sel-selnya berupa sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keeping darah (trombosit).
a.       Sel darah merah (eritrosit)
Sel darah merah memiliki ciri-ciri tidak memepunyai inti, berbentuk bikonkaf, yaitu bentuk cakram dengan bagian tengah agak gepeng. Warna dari eritrosit tergantung pada hemoglobin, jika eritrosit mengikat O2 maka eritrosit akan berwarna merah. Fungsi dari eritrosit ialah untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida. Jumlah eritrosit bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan ketinggian tempat tinggal seseorang.
b.      Sel darah putih (leukosit)
Terdapat enam jenis leukosit di dalam darah yaitu neutrofil, esinofil, basofil, monosit, limfosit, dan sel plasma. Sel darh ini memiliki cirri-ciri memiliki inti sel dan tidak memiliki hemoglobin. Leukosit berfungsi sebagai pertahanan tubuh. orang dewasa memiliki sekitar 4800-10800 leukosit per milliliter kubik darah. Masa hidup leukosit berbeda-beda, granulosit sekitar 12 jam, monosit dapat bertahan selama beberapa minggu atau bulan dan limfosit dapat berthan selama 100-300 hari.
c.       Keping darah (trombosit)
       Keping darah berbentuk cakarm dan tidak berinti. Masa hidupnya sekitar 8-10 hari. Setelah itu akan dibawa ke limpa untuk dihancurkan. Jumlah keeping darah adalah 150 ribu-400 ribu per milliliter kubik darah. Fungsi dari keeping darah ialah untuk menaktifkan mekanisme penggumpalan darah atau pembekuan darah.
d.      Plasma darah
Komponen terbesar penyusun plasma darah adalah air. Plasma darah berperan mengangkut sari makanan, hormone, zat sisa hasil metabolism, antibodi dan lain-lain (Marno, 2012).

  Description: C:\Users\satellitel640\Documents\leukosit.jpg  
2.12 Gambar eritrosit         2.13 Gambar leukosit      2.14 Gambar trombosit

7.    Jaringan Limfe/ Getah Bening
Asal jaringan getah bening adalah bagian dari darh yang keluar dari pembuluh darah, komponen terbesarnya adalah air dimana terlarut zzt-zat antara lain glukosa, garam-garam, asam lemak. Komponen selulernya adalah limfosit. Jaringan getah bening menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe. Fungsi dari jaringan limfe selain untuk kekebalan tubuh (adanya limfosit) juga untuk mengangkut cairan jaringan, protein, lemak, garam mineral dan zat-zat lain dari jaringan ke sistem pembuluh darah (Marno, 2012).

8.    Jaringan Tulang Rawan (Kartilago)
Tulang rawan merupakan hasil spesialisasi jaringan ikat berserat elastis. Matriks tulang rawan merupakan campuran dari protein dan polisakaridayang disebut kondrin. Oleh karena itu, sel tulang rawan disebut kondrosit. Kondrosit dibentuk oleh kondroblas. Kondrosit terletak dalam lacuna yang terdapt dalam perikondrium. Tulang rawan bersifat kuat dan lentur karena memiliki serat kolagen dan kondrin. Ada tiga jenis tulang rawan yaitu:


a.       Tulang rawan hialin
Tersusun dari matriks yang memiliki serat kolagen yang tersebar dalam bentuk anyaman halus dan rapat dan bening seperti kaca. Tulang rawan ini terdapat pada saluran pernapasan, dan ujung tulang rusuk.
b.      Tulang rawan elastik
Susunan perikondrium, matriks, sel, dan lacuna sama seperti tulang rawan hialin. Akan tetapi serat kolagen tulang rawn elastik tidak tersebar. Bentuk serat bergelombang. Tulang rawan ini terdapat pada pada bagian epiglottis dan bagian luar telinga.
c.       Tulang rawan fibrosa
Matriks tulang rawan fibrosa mengandung serat kolagen kasar dan tidak teratur, lakuna-lakunanya bulat atau bulat telur dan berisi kondrosit. Terdapat pada perlekatan ligament, sambungan tulang belakang, simfisis pubis (D.A. Pratiwi, 2006).

  Description: E:\best words\hyalin kartilago.jpgDescription: kartilago elastin.jpg    Description: kartilago fibrosa.jpg
Gambar 2.15 Tulang            Gambar 2.16 Tulang rawan   Gambar 2.17 Tualng rawan hialin                                 elastic                                          fibrosa
                                                          

9.    Jaringan Tulang (Osteon)
Tulang merupakan jaringan ikat yang mengandungmineral. Sel tulang disebut osteosit. Osteosit terletak di dalam lakuna. Osteosit dibentuk oleh osteoblas. Matriks penyusun tulang adalah kolagen dan kalsiumfosfatyang memperkeras matriks sehingga tulang lebih keras daripada tulang rawan. Tulang tersusun atas unit-unit yang dinamakan dengan sistem havers. Sistem mempunyai pembuluh darah yang berguna untuk menyupali makanan bagi tulang dan saraf. Tulang dibugkus oleh selaput pembungkus tulang yang disebut periosteum. Tulang berfungsi sebagai penyokong tubuh, alat gerak, dan pelindung organ dalam (D.A. Pratiwi, 2006).            




DAFTAR PUSTAKA


Hernawati. 2008. “Jaringan Ikat”. Makalah disajikan pada 6 Agustus 2008.
Marno. 2012. Biologi. Karanganyar: PT Pratama Mitra Aksara.
Pratiwi, D.A. Biologi. Jakarta: Erlangga.