December 2015 ~ Knowledge Is Free

WIFI ID GRATIS BULAN jANUARI 2016

INDISCHOOL 15 DESEMBER 2015 S/D 15 JANUARI 2016
USER NAME :  90852776544674
PAS : Und

USER NAME :  90822654272375
PAS : unr

MAKALAH PERKEMBANGAN MAZHAB

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “Tarikh Tasyri’ Periode Mazhab " dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.




Banda Aceh, 07 Desember 2015
                                                                     

            RUTH AMELIA RIVOLSHA









BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan tasri’ pada masa sahabat tidak begitu drastis, perubahan yang terjadi hanya pada pola amplikasi saja, dan pada masa ini pendapat para sahabat terkait dengan tasyri masih bisa disatukan, tetapi perlu kita ketahui embrio pertama aksisnya perbedaan mazhab  itu adalah pada masa para sahabat setelah Nabi wafat, sehingga timbullah mazhab wishaya, mazhab hak illahi sehingga berkembang menjadi beberapa sekte.
Berkembangnya ulama’-ulama’ hijaz menjadi Ahlul Hadist dan Ra’yi adalah pengaruh pemikiran dari Ali, Ibnu Mas’ud, dan Umr bin Khatab yang sangat terkenal banyak menggunakan ra’yu dalam menetapkan hukum suatu masalah. Dalam hal ini, di kalangan para tabi’in banyak yang terpengaruh oleh cara istimbat hukum para sahabat tersebut, para tabi’in di Iraq terpengaruh oleh ijtihadnuya Ali sedangkan ulama’ hijaz  dipengaruhi oleh pemikiran ibnu abbas yang tidak menggunakan ra’yu.
Timbulnya mazhab sunny adalah perkembangn dari ulama ahlul ra’yu, termaksud juga ulama mazhab yaitu, mazhab Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.
Perbedaan pendapat dalam penerapan hukum-hukum sari’ah pada masa ini sengan berbeda, padahal kita ketahui bahwa Imam Safi’i adalah muridnya Imam Malik, tetapi kenapa dalam pemahaman tentang hukumnya berbeda. Dan yang menjadi tanda Tanya apakah dibalik perbedaan tersebut, apakah para imam ingin menciptakan sekte-sekte sendiri, apakah perbebedaan yang segnifikan itu karena dilator belakangi oleh tempat mereka bermukim seperti halnya Imam Safi’i dengan background Iraq dan mesirs sehingga hadirnya Qaul Qadim dan Qaul Jadidnya, Imam Hanifah yang dipengruhi oleh daerah Persia, Imam Malik yang dilatar belakangi oleh negeri Hijaz, dan Imam Hambali yang berlatar belakang sebagai imam di Bagdad, atau ada faktor-fakto yang lainnya.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Faktor-faktor perkembangan tasyri’ periode mazhab
Berdasarkan sejarah Islam, bahwa munculnya mazhab-mazhab fiqh pada periode ini merupakan puncak dari perjalanan kesejarahan tasyri’. Bahwa munculnya mazhab-mazhab fiqh itu lahir dari perkembangan sejarah sendiri, bukan karena pengaruh hukum Romawi sebagaimana yang dituduhkan oleh para orientalis.
Fenomena perkembangan tasyri’ pada periode ini, seperti tumbuh suburnya kajian-kajian ilmiah, kebebasan berpendapat, banyaknya fatwa-fatwa dan kodifikasi ilmu, bahwa tasyri’ memiliki keterkaitan sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.[1]
Seperti contoh hukum yang dipertentangkan oleh Umar bin Khattab dengan Ali bin Abi Thalib ialah masa ‘iddah wanita hamil yang ditinggal mati oleh suaminya. Golongan sahabat berbeda pendapat dan mengikuti salah satu munculnya mazhab dalam sejarah terlihat adanya pemikiran fiqh dari zaman sahabat, tabi’in hingga muncul mazhab-mazhab fiqh pada periode ini pendapat tersebut, sehingga munculnya mazhab-mazhab yang dianut.[2]
Di samping itu, adanya pengaruh turun temurun dari ulama-ulama yang hidup sebelumnya tentang timbulnya mazhab tasyri’, ada beberapa faktor yang mendorong,  diantaranya:[3]
1)      Karena semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam sehingga hukum Islammenghadapi berbagai macam masyarakat yang berbeda-beda tradisinya.
2)      Munculnya ulama-ulama besar pendiri mazhab-mazhab fiqh berusaha menyebarluaskan pemahamannya dengan mendirikan pusat-pusat study tentang fiqih, yang diberi nama al-Madzhab atau al-Madrasah yang diterjemahkan oleh bangsa Barat menjadi school, kemudian usaha tersebut dijadikan oleh murid-muridnya.
3)      Adanya kecenderungan masyarakat Islam ketika memilih salah satu pendapat dari ulama-ulama mazhab ketika menghadapi masalah hukum. Sehingga pemerintah (khalifah) merasa perlu menegakkan hukum Islam dalam pemerintahannya.
4)      Permasalahan politik, perbedaan pendapat di kalangan muslim awal tentang masalah politik seperti pengangkatan khalifah-khalifah dari suku apa, ikut memberikan saham bagi munculnya berbagai mazhab hukum Islam.

B.     Mazhab-Mazhab Fiqh (dasar pemikiran dan perkembangannya)
1. Mazhab Hanafi
a.       Biografi Imam Abu Hanifah
Mazhab Hanafi merupakan mazhab yang paling tua diantara empat mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah yang populer. Mazhab ini dinisbahkan kepada Imam Besar Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin Zutha At-Tamimy, lahir di kuffah tahun 80 H dan wafat di Baghdad pada tahun 150 H.[4]
Imam Abu Hanifah seorang yang berjiwa besar dalam arti kata seorang yang berhasil dalam hidupnya, dia seorang yang bijak dalm bidanng ilmu pengetahuan, tepat dalm memberikan suatu keputusan bagi suatu masalah atau peristiwa yang dihadapi.[5]
Karena ia seorang yang berakhlak atau berbudi pekerti yang luhur, ia dapat menggalang hubungan yang erat dengan pejabat pemerintah, ia mendapat tempat yang baik dalam masyarakat pada masa itu, sehingga  beliau telah berhasil menyandang jabatan atau gelar yang tertinggi yaitu, Imam Besar (Al Imam Al-‘Adham)  atau ketua agung.[6]
Beliau hidup selama 52 tahun pada zaman Umayyah dan 18 tahun pada zaman Abbasyiah. Selama hidupnya ia melakukan ibadah haji lima puluh lima kali. Beliau diberi gelar Abu Hanifah, karena di antara putranya ada yang bernama Hanifah. Selain itu, menurut riwayat lain beliau bergelar Abu Hanifah, karena beliau begitu taat beribadah kepada Allah, yaitu berasal dari bahasa Arab "haniif yang artinya condong atau cenderung kepada yang benar. Menurut riwayat lain, beliau diberi gelar Abu Hanifah, karena begitu dekat dan eratnya beliau berteman dengan tinta. Hanifah menurut bahasa Irak adalah tinta.
Pada awalnya Imam Hanafi (Abu hanifah) adalah seorang pedagang, atas anjuran al-Syabi ia kemudian menjadi pengembang ilmu. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama aliran Irak (ra’yu). Semua ilmu yang di pelajari bertalian dengan keagamaan. Mula-mula beliau mempelajari hukum agama, kemudian ilmu kalam. Akan tetapi, difokuskan kepada masalah fiqh saja, tanpa mengecilkan arti ilmu yang lain, dan Abu Hanifah sendiri memang sangat tertarik mempelajari ilmu fiqih yang merangkum berbagai aspek kehidupan.

b.      Guru Imam Abu Hanifah
Beliau berguru dengan seorang ulama terkemuka pada zamannya, yaitu Hammad bin Sulaiman yang merupakan guru paling senior bagi Imam Abu Hanifah dan banyak memberikan pengaruh dalam membangun mazhab fiqhnya. Imam Abu Hanifah juga belajar dari tabi’in seperti ‘Atha’ bin Abi Rabah, dan Nafi’ pembantunya Ibnu Umar. 

c.       Fiqh Imam Abu Hanifah dan metodologinya dalam Istinbat Hukum
            Fiqh Imam Abu Hanifah memiliki cara yang modern dan manhaj tersendiri dalam kancah perfiqihan dan tidak ada sebelumnya. Imam Asy-Syafi’I berkata, “Semua orang dalam hal fiqh bergantung kepada Imam Abu Hanifah.” Imam Malik setelah berdiskusi dengan Imam Abu Hanifah berkata, “sungguh ia seorang yang ahli fiqh.”
            Imam Abu Hanifah memiliki manhaj tersendiri dalam meng-istinbat hukum. Beliau pernah berkata, “Saya mengambil dari kitab Allah, jika tidak ada maka dari sunnah Rasulullah dan jika tidak ada pada keduanya saya akan mengambil pendapat sahabat. Saya memilih salah satu dan meninggalkan yang lain, dan saya tidak akan keluar dari pendapat mereka dan mengambil pendapat orang lain, dan jika sudah sampai kepada pendapat Ibrahim, Asy-Sya’bi , Al-Hasan, Ibnu Sirin dan sa’id Al- Musayyib maka saya akan berijtihad seperti mereka berijtihad.
            Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwaManhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbat hukum adalah sebagai berikut.
a.       Alquran,
b.      Sunnah
c.       Pendapat sahabat
d.      Qiyas
e.       Al- istihsan
f.       Ijma’
g.      Al-‘urf (adat-istiadat)




d.      Perkembangan mazhab Imam Abu Hanifah
          Abu Hanifah meninggalkan tiga karya besar yaitu: fiqh akbar, al-alim wa al-muta’lim dan musnad fiqh akbar tetapi belum dikodifikasikan. Di samping itu Ia mendirikan membentuk badan yang terdiri dari tokoh-tokoh cendekiawan yang ia sendiri sebagai ketuanya. Badan ini berfungsi memusyawarahkan dan menetapkan ajaran Islam dalam berbagai bentuk tulisan dan mengalihkan syariat Islam kedalam undang-undang. 
          Kemudian murid-murid Abu Hanifah yang berjasa di Madrasah Kufah dan membukukan fatwa-fatwanya sehingga dikenal di dunia Islam antara lain ialah:
a.     Abu Yusuf Ya’cub ibn Ibrahim al-Anshary.
b.    Muhammad ibn Hasan al-Syaibany.
c.     Zufar ibn Huzail ibn al-Kufy.
d.    Al-Hasan ibn Ziyad al-lu’lu’iy.
            Dari keempat murid tersebut yang yang banyak menyusun buah pikiran Abu Hanifah adalah Muhammad al-Syaibani yang terkenal dengan al-kutub al sittah (enam kitab), yaitu:
1.    Kitab al-Mabsuth
2.    Kitab al-Ziyadat.
3.    Kitab al-Jami’ as-Shagir.
4.    Kitab Jami’ al-Kabir.
5.    Kitab al-Sair al-Shagir.
6.    Kitab al-Sair al-Kabir.
            Para pengikutnya tersebar di berbagai negara seperti Irak, Turki, Asia Tengah, Pakistan, India, Tunis, Turkistan, Syria, Mesir dan Libanon. Madzhab hanafi pada masa khilafah bani Abbas merupakan madzhab yang banyak dianut oleh umat Islam dan pada pemerintahan kerajaan Utsmani, madzhab ini merupakan madzhab resmi negara.
C. Contoh Fiqh yang ada dalam madzhab Hanafi.
Dalam kasus batal atau tidaknya orang yang makan atau minum di siang hari ketika sedang berpuasa karena lupa. Dalam menetapkan hukum atas permasalahan ini Imam hanafi menggunakan Istihsan dengan nash (berpalingnya mujtahid dari hukum yang dikehendaki oleh kaidah umum kepada hukum yang dikehendaki oleh nash). Menurut qiyas (dalam arti kaidah umum) merusak atau membatalkan puasa karena telah cacat dan menghilangkan rukunnya. Dan sesuatu yang telah hilang rukunnya berarti batal. Akan tetapi pada makan di siang hari pada bulan ramadhan karena lupa dilakukan pemalingan dari hukum batalnya puasa yang dikehendaki oleh kaidah umum kepada hukum yang dikehendaki oleh nash. Berdasarkan sabda Nabi SAW dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “orang berpuasa yang makan atau minum karena lupa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum”. Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang makan atau minum karena lupa tidak membatalkan puasanya. Sehingga menurut Hanafi, hukum yang dikehendaki oleh hadits inilah yang ditetapkan terhadap masalah tersebut, bukan hukum yang dikehendaki oleh kaidah umum.


7.       
D. MAZHAB HANBALI
a.       BIOGRAFI IMAM HANBALI
Mazhab hanbali di bangun oleh imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H dan meninggal di tempat yang sama tahun 241 H. Beliau adalah keturunan Arab asli dari garis ayah dan ibunya, bernasab kepada kabilah Syaiban. Imam Ahmad telah diperkenalkan dengan ilmu sejak usia dini, apalagi keluarganya memiliki kemampuan untuk itu.[7]
b.      Pendidikan Imam Ahmad
       Imam Ahmad sudah mulai  belajar Alquran sejak masa kecil, belajar bahasa Arab dan Hadis, riwayat para sahabat dan tabi’in dan sudah terliahat tanda kecerdasan sejak usianya masih kanak-kanak, selain itu juga tekun dalam belajar. Beliau belajar hadis dari para ulama yang ada di Baghdad, kemudian merantau untuk mencari ilmu ke Basrah, Hijaz, Kufah, dan Yaman bahkan samapai merantau lima kali ke Basrah dan Hijaz. Di Mekkah ia bertemu dengan Imam Asy-Syafi’i dan selama rantauannya banyak mendapatkan ujian dan kesulitan.[8]
       Diantara perjalanannya yang paling sulit adalah perjalanan mencario hadis dan mendengar dari perawinya yang masih hidup, dan merasa tidak cukup hanya menukil dari buku untuk kemudian disampaikan lagi, tetapi harus bertemu langsunh untuk memastikan periwayatan. Kecenderungan Imam Ahmad tehadap pelajaeran hadis dan periwayatannya telah memberi dampak besar baginya untuk memperdalam ilmu fiqh. Setiap hadis uang dirawayatkan dan fatwa dan keputusan hakim oleh sahabat atau tabi’in yang dikuasainya,semua menjelma menjadi sebuah pemahaman yang sangat dalam, memberi Imam Ahmad keahlian fiqh yang besar dan kemampuan menggali sehingga ia menjadi seorang mujtahid mandiri yang memiliki mazhab tersendiri.[9]
c.       Dasar Mazhab Hanbali
Imam Ahmad mendirikan mazhabnya diu atas lima dasar sebagai berikut.
a.       Nash Alquran dan Sunnah. Jika ia menemukan nash maka ia akan menggunakannya dalam berfatwa dan tidak melirik yang lain, tidak mendahulukan pendapat sahabat daripada hadis yang shahih, atau amalan penduduk Madinah atau yang lainnya.
b.      Fatwa sahabat yang tidak ada pernentangnya, dan tidak menamakannya sebagai ijma’, namun beliau menamakannya karena wara’ “saya tidak menemukan ada yang menentangnya.
c.       Jika para sahabat berbeda pendapat maka beliau akan memilih salah satunya jika sesuai dengan Alquran dan sunnah, dan tidak mencari pendapat orang lain.
d.      Menggunakan hadis mursal dan hadist dhaif  jika tidak ada dalil lain yang menguatkannya dan didahulukan daripada qiyas.
e.       Qiyas, jika tidak ada nash dari Alquran dan sunnah, atu pendapat sahabt atau hadis mursal atau hadis dhaif maka ia baru mengambil qiyas.[10]

d.      Guru Imam Hanbali
Gurunya yang pertama ialah Abiu Yusuf Yakub bin Ibrahim Al-Qadhi, seorang rekan Abu Hanifah. Beliau mempelajari daripadanya ilmu fiqh dan hadis, Abu Yasuf adalah seorang yang dianggap gurunya yang pertama.
Imam Ahmad mempunyai musnad yaitu Musnad Imam Ahmad ialah kumpulan beberapa hadis yang diriwayatkan  oleh Imam Ahmad.[11]
Mazhab Maliki
1.       Biografi Pendiri Mazhab Maliki
Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin ‘Amir Al-Ashbahi, lahir di Madinah pada tahun 93 H dari kedua orang tua keturunan arab. Ayahnya berasal dari kabilah Dzi Ashbah yang ada di Yaman, dan ibunya bernama Aliyah binti Syuraik dari kabilah Azdi.
2.       Karir Pendidikan Imam Malik
Beliau sudah hafal Alqur’an dalam usia yang sangat dini, belajar dari Rabi’ah Ar-Ra’yi ketika beliau masih sangat muda, berpindah dari satu ulama ke ulama yang lain untuk mencari ilmu sampai beliau bertemu dan ber-mulazamah dengan Abdurrahman bin Hurmuz.
Imam Malik mengawali pelajarannya dengan menekuni ilmu riwayat hadis, mempelajari fatwa para sahabat dan dengan inilah beliau membangun mazhabnya. Imam Malik tidak hanya berhenti sebatas itu, beliau mengkaji ilmu yang ada hubungannya dengan ilmu syariat. Beliau memiliki firasat yang tajam dalam menilai orang dan mengukur kekuatan ilmu fiqh mereka.
3.       Guru Imam Malik
Imam Malik mendapatkan ilmu fiqh dan sunnah dari para gurunya, diantaranya Abdurrahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhriy, Abu Az-Zannad, Abdullah bin Dzakwan (belajar hadis), Yahya bin Sa’id (belajar ilmu fiqh dan periwayatan), Rabi’ah bin Abdirrahman, darinya Imam Malik belajar fiqh logika yang sangat ternama sehingga beliau dijuluki Rabi’ah Logika.
4.       Majelis Pengajaran Imam Malik
Beliau memiliki dua majelis taklim, pertama majelis hadis dan kedua majelis fatwa. Beliau membuat jadwal khusus untuk fatwa dan hadis, selain ada yang datang langsung kepada beliau dan sang imam kemudian menuliskan jawabannya untuk siapa pun yang mau.
Imam Malik sangat komitmen menjaga kekhusyu’an majelis pengajiannya dan jauh dari gurauan kata. Dalam memberikan fatwa, Imam Malik hanya akan menjawab masalah yang sudah terjadi dan tidak melayani masalah yang belum terjadi, meskipun ada kemungkinan akan terjadi.
Imam Malik sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, tidak mau menjawab pertanyaan yang ia tidak tahu. Jika ia tidak dapat memastikan hukum suatu masalah, ia akan mengatakan saya tidak tahu agar ia terlepas dari salah fatwa, tidak tergesa-gesa menjawab jika ditanya, dan berkata kepada si penanya, “pergilah nanti saya lihat dulu”.
Imam Malik tidak pernah menganggap remeh atau susah masalah yang ditanyakan kepadanya, tetapi semua dianggap berat apalagi ketika terkait halal dan haram.
5.       Murid Imam Malik
Imam Malik tinggal di kota Madinah dan tidak pernah berpindah, sampai ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintanya untuk pergi bersamanya ke Baghdad namun ia menolak dan lebih memilih tinggal di dekat Nabi dari pada Baghdad dan yang lainnya.
Lamanya beliau tinggal di Madinah dan ketokohannya dalam bidang fiqh telah memberi adil besar bagi tersebarnya mazhab beliau dan banyaknya murid yang datang untuk belajar dari segala penjuru negeri Islam, dari Syam, Irak, Mesir, Afrika Utara, dan Andalusia. Semuanya datang untuk berguru kepadanya dan dari merekalah, mazhabnya kemudian menyebar keseluruh negeri Islam. Di antara muridnya adalah Abdullah bin Wahab yang berguru kepadanya selama dua puluh tahun dan menyebarkan mazhab Maliki di Mesir dan Maroko.
Di antara muridnya adalah Abdurrahman bin Al-Qasim Al-Mishriy, memiliki peranan penting dalam menulis mazhab Imam Malik, berguru kepada Imam Malik selama hampir dua puluh tahun, meriwayatkan kitab Al-Muwaththa’ dan periwayatannya termasuk yang paling shahih dan wafat pada tahun 192 H.
Di antara murid beliau adalah Asyhab bin Abdul ‘Aziz Al-Qaisi, rujukan kaum muslimin di Mesir dalam bidang fiqh dan Turnisia yang wafat pada tahun 224 H. Selain itu ada juga Abu Al-Hasan Al-Qurthubiy, belajar dari kitab Al-Muwaththa’ secara langsung kepada Imam Malik dan menyebarkannya di Andalusia. Selain murid-murid yang sudah disebutkan di atas sebenarnya masih banyak lagi.
6.       Dasar Mazhab Imam Malik
Berdasarkan penjelasan dan isyarat Imam Malik serta hasil istinbat para fuqaha’ mazhab dari berbagai masalah furu’iyah yang dinukilkan dan juga pendapat yang ada dalam kitab Al-Muwaththa’ dapat disimpulkan bahwa dasar mazhab  Imam Malik adalah Alqur’an, Sunnah, Amalan penduduk Madinah, Fatwa sahabat, Qiyas Al-Mashalih Al-Mursalah dan Istihsan, Sadd Adz-Dzara’i, dan Al-‘Urf (adat istiadat).

Muhammad Idris As-Syafi’i: (Imam Syafi’i) 767-820 M.

A. Biografi Singkat.
Imam Syafi’i dilahirkan di Gazah (150 H/ 767 M) dan wafat di Mesir (204 H/ 819 M). Ia mempelajari Quran pada Islmail ibn Qastantin (qari’ di kota Mekah). Kemudian ia mempelajari hadits dari Imam Malik di Madinah. Sebelumnya ia pernah belajar hadits kepada Sufyan ibn Uyainah salah seorang ahli hadits di Mekah.
Tahun 195 H, Imam Syafi’i pergi ke Baghdad dan menetap di sana selama 2 tahun. Setelah itu kembali ke Mekah. Pada tahun 198 H ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana beberapa bulan, kemudian pergi ke Mesir dan menetap di sana sampai wafatnya.
5. Pengalaman dan pengetahuan Imam Syafi’i tentang masalah kemasyarakatan sangat luas. Ia menyaksikan langsung kehidupan masyarakat desa dan menyaksikan juga kehidupan masyarakat yang sudah maju peradabannya pada tingkat awal di Irak dan Yaman. Juga menyaksikan kehidupan masyarakat yang sudah sangat kompleks peradabannya seperti yang ada di Irak dan Mesir. Pengetahuan Imam Syafi’i dalam bidang kehidupan ekonomi dan kemasyarakatan yang bermacam-macam itu, memberikan bekal baginya dalam ijtihadnya pada masalah-masalah hukum yang beraneka ragam. Ia belajar hukum fiqih islam dari para mujtahid mazhab Hanafi dan Malik bin Anas. Karena itu pula ia mengenal baik keduua aliran hukum itu baik tentang sumber hukum atau metode yang mereka gunakan dan dapat menyatukan kedua aliran itu serta merumuskan sumber-sumber hukum (fiqih) Islam (baru).
Dalam kepustakaan hukum islam ia disebut sebagai master architect (arsitek agung) sumber-sumber hukum (fiqih) islam karena ia lah ahli hukum islam pertama yang menyusun ilmu usl al-fiqh (usul fiqih) yakni ilmu tentang sumber-sumber hukum fiqih Islam dalam bukunya yang terkenal ar-Risalah Al-Qur’an, Sunah , Ijmak dan Qiyas. Syafi,I banyak menulis buku, diantaranya yang terkenal adalah al-Umm (Induk) dan Ar-Risalah tersebut di atas. Ia terkenal pula mempunyai dua pendapat mengenai masalah yang sama atau hampir bersamaan yang di keluarkannya di dua tempat yang berbeda karena perbedaan waktu, situasi dan kondisi. Pendapat yang dikemukakanya ketika ia berada di Baghdad (Irak) terkenal dengan nama qaul qadim (pendapat lama), dan pendapat yang dikeluarkanya di Kairo (Mesir) di tempat ia meninggal dunia dikenal dengan pendapat baru (qaul jaddid). Disini kelihatan bahwa factor waktu dan tempat mempengaruhi pemikiran dan hasil pemikiran hukum, walaupun sumbernya adalah sama.
Mazhab Syafi’I sekarang diikuti di Mesir, Palestina, (juga hukumnya adalah di beberapa tempat di Syiria dan Libanon, Irak, dan India), Muangthai, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Sumbernya adalah Alquran, Sunah, Ijmak, Qiyas dan Istishab, yaitu penerusan berlakunya ketentuan hukum yang telah ada, Karena tidak terlihat adanya dalil yang mengubah ketentuan hukum tersebut.

Guru imam Asy-Syafi’i
Imam Asy-syafi’I mendapatkan ilmunya dari banyak guru yang tersebar diseluruh negeri islam dan para fiqaha’ yang tersebar dinegeri itu. Di mekkah beliau belajar dari muslim bin Khalid Az-zanji, seorang mufti mekkah dan beliau belajar degan nya dalam waktu yang lama sehingga imam asy-syafi’I dapat menguasainya, bahkan muslim bin Khalid Az-zanji memberikan izin agar member fatwa. Imam Asy-Syafi’i juga belajar dari imam Maliki di madinah, mempelajari fiqih penduduk madinah dan tercatat sebagai murid imam malik. Imam Asy-syafi’I jiga belajar dengan Muhammad bin al-Hasan Asy-Syaibani, sahabat Imam Abu Hanifah, selain itu beliau juga mengambil ilmu Sufyan bin Uyainah dan Abdurrahman bin Mahdi. Kesemuanya memuji Imam Asy-Syafi’I atas keluasan ilmuya.





[1] Mun’im. A.Sirri, Sejarah Fiqh Islam, Islamabad, Risalah Bush, 1996, hlm 76
[2] ..., hlm 76
[3] Mahjuddin, Ilmu Fiqih, (Jember: GBI Pasuruan, 1991), hlm. 111
[4] Rasyad  Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta, Hamzah 2015), hlm. 172
[5] Ahmad Asy-Syurbasi, Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab, (jakarta, Hamzah, 2011), hlm.12.
[6] ..., hlm. 12
[7] Rasyad  Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta, Hamzah 2015), hlm. 193-194
[8] ..., 194
[9] ..., 195
[10] ..., 195-196

[11] Ahmad Asy-Syurbasi, Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab, (jakarta, Hamzah, 2011) hlm. 195

Makalah Nasionalisme Aceh

BAB I
PENDAHULUAN

            Nasionalisme pada dasarnya berwatak inklusi dan berwawasan kemanusiaan. Pada perkembangan selanjutnya ,watak nasionalisme indonesia yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh nasionalis mempengaruhi konsep pokok selanjutnya tentang negara bangsa,warga negara,dan dasar negara indonesia atau yang kemudian disebut dengan ideologi pancasila. Konsep nasionalisme yang dirumuskan oleh founding father dengan konsep-konsep lanjutan lainnya, seperti konsep negara bangsa yang lebih di konkretkan menjadi bentuk dan struktur negara indonesia yang berbentuk republik. [1]
Ikatan nasionalisme indonesia bukan diikat oleh kesamaan etnis melainkan sebuah   cita-cita bersama untuk membangun bangsa indonesia kedepan. Dengan kata lain nasionalisme indonesia ada yang menyebutnya sebagai civic nationalism, yaitu nasionalisme yang lebih didsarkan pada nilai-nilai dan cita-cita bersama untuk membela kemanusiaan dan membangun peradaban sebagaimana dalam cita-cita proklamasi dan pancasila. Adapun organisasi modern itu sebenarnya adalah dampak modernisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial sendiri. Kebangkitan nasional adalah dampak yang tidak disadari oleh pemerintah.
 Abad XX adalah abad nasionalisme, artinya sejak awal sampai dengan penutupan abad ini timbul kesadaran berbangsa. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bahwa ternyata kesadaran bangsa Indonesia sudah mengawali abad ini dan bahkan kesadaran ini masih diikuti oleh bangsa-bangsa yang menginginkan terciptanya bangsa (nasion) sendiri yang merdeka. Yang terakhir ini ternyata baru berlangsung menjelang penutupan abad XX. Jelas kiranya bahwa keinginan bersama untuk membebaskan diri dari dominasi etnik lain terjadi secara universal.
Kaitannya dengan Indonesia, bahwa sebagai bagian dari Indonesia mulai tumbuh di Aceh pada awal dasawarsa abad 20. Nasionalisme Indonesia mulai dikembangkan di Aceh pada awal dasawarsa abad 20 yaitu pada kurun waktu 1919 sampai 1922 oleh Syarikat Islam. Hasilnya adalah adanya pergeseran identitas keacehan atau keislaman menjuju sebuah identitas yang mengindonesia. Titik puncak kecenderungan atas nasionalisme Indonesia sebagai media pemersatu dalam perjuangan melawan Belanda terjadi pada 1945.

BAB II
PEMBAHASAN
                          
A.   Pengertian Nasionalisme.
 Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya[2].
Nasionalisme adalah sutau situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total didiabdikan kepada negara dan bangsa atas nama sebuah bangsanya. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam identitas politik atau kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut negara (nation), dengan demikian bangsa merupakan suatubadan (wadah) yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti: ras, etnis, agama, bahasa,dan budaya. Dari unsur persamaan tersebut semuanya dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama untuk menentukan tujuan bersama[3].
 Sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang mendambakan kepentingan bersama yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka terdiri dari masyarakat yang majemuk. Bangsa mempunyai pengertian totalitas yang tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama. Diantara mereka tercipta hubungan sosial yang harmonis dan sepadan atas dasar kekeluargaan. Kepentingan semua kelompok diinstutionalisasikan dalam berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan. Upaya penggalangan kebersamaan ini sering kali bertujuan menghapus superioritas kolonial terhadap suatu bangsa yang telah menimbulkan berbagai penderitaan selama kurun waktu yang cukup lama. Ada juga yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah pemikiran untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan Negara dengan menghargai dan menjiwai baik itu budaya, adat istiadat maupun sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia yang telah merdeka ini.
Dalam  konteks ini, kata kunci dalam nasionalisme adalah supreme loyality terhadap kelompok bangsa. Kesetiaan ini muncul karena adanya kesadaran akan identitas kolektif yang berbeda dengan yang lain. Pada kebanyakan kasus, hal itu terjadi karena kesamaan keturunan, bahasa atau kebudayaan. Akan tetapi , ini semua bukanlah unsur yang subtansial serba yang paling penting dalam nasionalisme adalah adanya “kemauan untuk bersatu”.
 Oleh karena itu, “bangsa” merupakan konsep yang selalu berubah, tidak statis, dan juga tidak given, sejalan dengan dinamika kekuatan-kekuatan yang melahirkannya.
Nasionalisme tidak selamanya tumbuh dalam masyarakat multi ras, bahasa, budaya, dan bahkan multi agama. Amerika dan Singapura misalnya, adalah bangsa yang multi ras; Switzerland adalah bangsa dengan multi bahasa; dan Indonesia, yang sangat fenomenal, adalah bangsa yang yang merupakan integrasi dari berbagai suku yang mempunyai aneka bahasa, budaya, dan juga agama[4].

B.          Makna Nasionalisme
Makna Nasionalisme secara politis merupakan kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau menghilangkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:
·         Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
·            Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.



C.       Perkembangan  Nasionalisme di Aceh.
Kegemilangan Aceh di masa Negara Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam berdaulat Nasionalisme Aceh telah membentuk sebuah arah sejarah. Itu dimunculkan oleh Hasan Tiro dengan bukunya ‘The Price of Freedom’, ‘Aceh Bak Mata Donya’ dan lain-lain. Namun sebuah buku tidak akan berpengaruh jika tidak ada yang membaca atau menindaklanjuti dari isinya.
Aceh menuntut merdeka dari Republik Indonesia sejak pernyataan Aceh Sumatera Merdeka oleh Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 di Gunong Alimon Aceh sampai penandantanganan kesepakatan (MoU) di Helsinki Finlandia pada 15 Agustus 2005 karena adanya nasionalisme Aceh. Negara Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam tidak mengembangkan nasionalisme Aceh, tetapi sebuah persaudaraan Islam antara bangsa-bangsa Melayu. Bahkan kata Aceh tidak pernah tedengar di masa Kesultanan Samudera Pasai. Kata Aceh baru disiarkan ketika Aceh Darussalam. Itu bukan artinya Aceh tidak ada sebelum itu, tetapi ini diartikan bahwa sebuah kumpulan manusia yang kini disebut Aceh, di masa dahulunya bukan dinamakan Aceh[5].
Di masa Kesultanan Samudera Pasai, bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Jawi (Melayu Pasai), bukan bahasa Aceh. Begitupun di masa Kesultanan Aceh Darussalam, semuanya memakai bahasa Jawi. Menurut beberapa asal kabar, itu terjadi di masa Belanda. Ketika itu, orang Aceh menulis dalam bahasa Aceh supaya Belanda tidak mengertinya karena bangsa dari Eropa Utara itu hanya menyiapkan juru bahasa Jawi. Makanya muncullah Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Aceh.
 Dalam sejarahnya, nasionalisme Indonesia melalui beberapa tahap perkembangan. Tahap pertama ditandai dengan tumbuhnya perasaan kebangsaan dan persamaan nasib, Tahap kedua adalah kelanjutan dari semangat revolusioner pada masa perjuangan. Tahap ketiga adalah nasionalisme persatuan dan kesatuan. Tahap keempat adalah nasionalisme kosmopolitan yaitu nasionalisme yang disemangati oleh multikulturalisme.
Untuk bisa meningkatkan rasa nasionalisme bagi pemuda Aceh, dibutuhkan beberapa persyaratan, antara lain dimensi kemanusian, keadilan sosial dan hadirnya keluasan dalam demokrasi lokal. pada beberapa tahun lalu, Aceh pernah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, padahal kontribusi daerah ini sangat besar terhadap Republik Indonesia.
D.          Kondisi masyarakat Aceh terhadap nasionalisme.
Kehadiran nasionalisme di Aceh, telah menempatkan bahasa Indonesia sebagaimana yang harus dihindari di Aceh di masa sebelum MoU Helsinki. Itu sebuah kesalahan besar. Karena akan ada bahasa Aceh sebagai bahasa induk, Aceh telah tertipu pada kenyataan bahwa merekalah yang mengajarkan bahasa Jawi yang sudah tersusun rapi dalam tulisan kepada penduduk di Pulau Sumatera, Jawa, Borneo (Kalimantan), Maluku, Mindanao (Filipina), dan semenanjung Malaka (Pattani [Thailaind], Pahang, Kelantan (Malaysia), dan lainnya.
Ada beberapa asal kabar menerangkan bahwa bahasa Aceh bahkan lebih tua daripada bahasa Jawi, tetapi lebih rumit sehingga itu hanya menjadi bahasa khusus yang dipakai di antara orang Aceh sendiri. Sementara di kegiatan-kegiatan resmi, yang dipakai adalah bahasa Jawi, artinya, sejak ratusan tahun lalu, anak Aceh diajarkan dua bahasa sekaligus.

Sementara, bahasa Indonesia merupakan bahasa Jawi yang telah diubah sedemikian rupa setelah Republik Indonesia ada. Untuk memutuskan hubungan dengan kenyataan sejarah bahwa bahasa tersebut dikembangkan pertama kali di masa Samudera Pasai, maka diciptakan sebuah cara supaya ada yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Kemudian, ke dalam bahasa yang telah diubah itu dimasukkan bahasa Inggris, Jawa, dan sebagainya.
Untuk bisa meningkatkan rasa nasionalisme bagi pemuda Aceh, dibutuhkan beberapa persyaratan, antara lain dimensi kemanusian, keadilan sosial dan hadirnya keluasan dalam demokrasi lokal. Pada beberapa tahun lalu, Aceh pernah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, padahal kontribusi daerah ini sangat besar terhadap Republik Indonesia.  Sejak dari merebut kemerdekaan, membeli pesawat udara untuk perjuangan Indonesia hingga hasil bumi Aceh yang dikeruk oleh pusat. Namun, yang diterima Aceh adalah ketidakadilan dan hadirnya operasi militer ke Aceh.
Hal itulah yang pada akhirnya menimbulkan rasa sakit hati serta menilai bahwa pemerintah pusat bertindak tidak adil terhadap Aceh yang pada akhirnya melahirkan sikap dan rasa antipati kepada pemerintah, sehingga untuk bisa membangkitkan kembali rasa nasionalisme tersebut, susah dilakukan jika tak ada ketulusan dan keseriusan pemerintah terhadap Aceh, katanya. menilai rasa nasionalisme generasi muda Aceh secara formal mulai mengalami masa penurunan. Itu karena rasa luka dan trauma masa lalu yang dilakukan pemerintah pusat terhadap daerah itu.
BAB III
PENUTUPAN
A.          Kesimpulan
Nasionalisme adalah sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang mendambakan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka terdiri dari masyarakat yang majemuk.  
 Nasionalisme secara politis merupakan kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau menghilangkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.
Kehadiran nasionalisme di Aceh dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi bentuk yang lebih kompleks dan rumit. Dimulai dari  tumbuhnya kesadaran untuk menentukann nasib sendiri di kalangan bangsa-bangsa yang tertindas di dunia. Lahirnya semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan masa depannya sendiri. Dalam situasi perjuangan perebutan kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai dasar pembenaran rasional dari tuntutan terhadap penentu nasib sendiri yang dapat mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pembenaran tersebut, selanjutnya mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme. Dari sinilah kemudian lahir konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation), negara (state),dan gabungan keduanya yang menjadi konsep negara-bangsa (nation-state) sebagai komponen-komponen yang membentuk identitas nasional atau kebangsaan.









DAFTAR PUSTAKA

Azra,Azumardi. Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani hal 32.
Bambang suteng.dkk,pendidikan kewarganegaraanuntuk SMA X.(jakarta:erlangga.2006).
Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayana, Cerdas,Kritis,dan Aktif Berwarganegara, Jakarta: Erlangga,2010, hlm. 38-40.
http://www.peradabandunia.com/2013/12/nasionalisme-aceh.html.




[1] Prof. Dr. Azumardi Azra, MA. Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani hal 32
[2] Bambang suteng.dkk,pendidikan kewarganegaraanuntuk SMA X.(jakarta:erlangga.2006)
[3] http://blog.ub.ac.id/fitria37/2013/01/02.makalah-pendidikan-kewarganegaraan-identitas-nasional.
[4]. Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayana, Cerdas,Kritis,dan Aktif Berwarganegara, Jakarta: Erlangga,2010, hlm. 38-40.