April 2016 ~ Knowledge Is Free

Appreciating Diversity Through Children’s Stories and Language Development (KERAGAMAN BERCERITA)

Mengajarkan Diversitas / Keragaman dalam Bercerita
(Resume Jurnal: Appreciating Diversity Through Children’s Stories
and Language Development)


            Jurnal ini membahas tentang menghargai keragaman melalui cerita anak dan perkembangan bahasanya. Dalam jurnal ini dikatakan keragaman itu sendiri dimulai dari dalam kelas di mana guru dapat melihat bagaimana anak-anak berinteraksi setiap harinya. Contoh, sarah sangat suka menyirami tanaman karena dirumahnya ia berkebun. Juan, ketika ia merasa malu ia mencoba memisahkan diri dari temannya dengan berubah menjadi harimau dan andres ia anak yang sangat menyayangi teman-temannya, pada saat temannya datang ke sekolah ia langsung memeluknya. Disini guru dapat mengerti dan memberikan toleransi pada setiap perbedaan yang dilakukan oleh anak-anak tersebut karna orang dewasa merupakan sumber kekuatan bagi anak-anak tersebut.
            Setiap anak dan keluarganya mempunyai cerita tersendiri yang mana cerita tersebut merupakan sesuatu yang unik yang ada pada keluarga mereka, ketika kita berinteraksi dengan keluarga yang berbeda maka wawasan kita akan bertambah. Anak-anak yang dapat menggunakan bahasa selain bahasa ibu akan mudah berkomunikasi dengan orang lain yang ada disekitarnya, kita sebagai orang pertama yang ada di dekat anak haruslah memantau anak dengan memberikan pemahaman bahasa yang baik yang dapat anak gunakan ketika beriteraksi dengan orang lain (Rigg & Allen, 1989)
            Orang dewasa dapat mempelajari kisah anak-anak melalui karya seni, bermain dan drama yang dilakukan anak. Bermain dan karya seni bukan hanya sebagai cara bagi anak untuk mengetahui satu sama lain, tetapi suatu cara yang indah dimana anak dapat mengekspresikan dan mengkomunikasikan ide-ide mereka, pengalaman dan perasaannya (Thompson, 2005; Schirrmacher, 2002; jones & Reynolds, 1992)
            Anak-anak dapat menceritakan kisah mereka melalui seni, baik dalam kolase, cat atau media lainnya. Ilustrasi atau karya seni lainnya dapat menyampaikan pikiran, tindakan, peristiwa, emosi, dan pengalaman yang terkadang tidak dapat diungkapkan (Thompson, 2005). Contoh ketika flor de maria pertama sekali tinggal di rumah orang tua angkatnya ia menggambar ibunya yang sedang menggendong flor di punggungnya. Di Guatemala tempat mereka tinggal, hal seperti itu adalah hal yang wajar ketika seorang ibu membawa bayi dipunggungnya sampai anak berusia 4 atau 5 tahun. Gambar tersebut yang dibuat oleh flor telah menceritakan bagaimana pengalamannya.
            Gambar kedua yang di gambar oleh flor, flor menggambar foto bermain bola bersama ayahnya, bulan pertama di saat flor tinggal bersama mereka flor juga menggambar foto keluarga, foto tersebut menggambarkan cara flor bergabung atau melakukan pendekatan dengan keluarga barunya dan mempunyai rasa memiliki.
            Ketika kita ingin mengerti apa yang digambarkan oleh anak, maka mintalah anak untuk menjelaskan maksud dari gambar tersebut, dari situ kita mudah memahami apa yang dimaksudkan dalam gambar yang telah dibuat oleh anak tersebut (Schirrmacher, 2002; Thompson, 2005). Pada saat mereka mulai memberi tahu maksud dari gambar yang mereka buat, maka kita sebagai orang dewasa akan memperoleh wawasan baru dimana hal tersebut anak mencoba untuk berkomunikasi dengan kita.
            Seni juga dapat membuat anak-anak merekam peristiwa dan membantu mereka memahami pengalamannya. Hal ini berfungsi sangat baik bagi anak-anak untuk memahami keragaman baru yang ada di sekitar mereka. Lukisan, gambar, kolase, lagu, cerita mereka dapat mengungkapkan apa yang mereka lihat dan mengerti tentang dunia di sekitar mereka (kieff & Casbergue, 2000, hal. 172).
            Bermain, Ketika kita hanya memfokuskan bahasa dan bermain, banyak teori terkait seperti teori piaget (1951) dan vygotsky (1978), mereka menyatakan bahwa melalui bermain anak-anak menggembangkan symbol dan simbolik yang berhubungan langsung dengan perkembangan bahasa dan pembentukan konsep. Salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan bahasa dan bermain adalah bahwa ketika anak bermain bersama anak dapat beradaptasi, seperti flor dan temannya yoselin, mereka ketika berbicara menggunakan dua bahasa yaitu bahasa spanyol dan inggris namun dengan mereka saling berinteraksi, mereka akan mengerti satu sama lain.
            Kekuatan yang terdapat dalam bahasa selama anak bermain adalah ketika mereka saling berinteraksi dan terlibat dalam percakapan, percakapan sangat berarti bagi mereka ketika mereka bermain bersama karena mereka mencoba mengkomunikasikan yang tejadi di antara mereka (Dudley-marling & Searle, 1991) seperti contoh dua anak di atas tadi, ketika mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda tapi mereka sama-sama ingin menjelaskan dari apa yang ingin mereka komunikasikan.
            Seni drama, ketika orang tua angkat yoselin membawanya pertama sekali ke rumah mereka, pagi-pagi ketika yoselin bangun lalu turun ke bawah dan menepuk bolak-balik kedua telapak tangannya, maksud dari menepuk bolak balik adalah ia ingin memakan tortila jagung. Lalu flor ketika ingin memakan sesuatu menggambar sebuah lingkaran di udara dengan jari-jarinya, lalu orang tuanya menebak bahwa yang di gambarkan oleh flor adalah “donat”, lalu flor mengatakan “donat”. Dengan cara seperti ini, orang tua flor membantunya untuk dapat menggunakan bahasa lisannya bukan hanya dengan gerakan tangan.
            Berkomunikasi melalui gerakan juga merupakan suatu cara yang baik yang dapat digunakan anak untuk menambah keutuhan komunikasinya. Anak-anak dapat melakukan cerita dengan gerakan sebelum ia menceritakan dengan lisan dan orang dewasa membantu anak menebak cerita apa yang dimaksud dengan cara perlahan-lahan. Tujuannya adalah untuk anak dapat menggambarkan ceritanya terlebih dahulu, dengan melakukan gerakan maka ia membuat orang yang mendengarkannya memahami apa yang dimaksud, baru anak melakukan cerita dengan lisan ataupun tulisan.
            Vivian paley dikenal dengan teorinya tentang “storyacting” dimana anak-anak bercerita untuk anak-anak yang lebih dewasa atau gurunya, lalu gurunya bertindak sebagai juru nulis, juru nulis mengecek cerita yang di tulis anak apakah anak mengerti tentang apa yang di ceritakan temannya ketika ia memperagakan cerita. Lalu anak yang menceritakan meminta anak lain untuk memperagakan cerita tersebut, lalu penulis muda atau anak tersebut berakting sesuai dengan cerita tersebut (paley, 1990).













Daftar Pustaka

Thompson, Susan. 2008. Appreciating Diversity Through Children’s Stories and     Language Development. University of Northern Colarado